Pertemuan Pramono dengan FBR ajak jaga kota Jakarta tetap aman dan kondusif di lingkungan urban
Pertemuan Pramono dengan FBR ajak jaga kota Jakarta tetap aman dan kondusif di lingkungan urban
0 0
Read Time:4 Minute, 46 Second

jkt.infoPramono ajak FBR jaga kota Jakarta agar tetap aman dan kondusif, menyasar langsung para jawara dan anggota ormas Forum Betawi Rempug (FBR) sebagai mitra menjaga ketertiban di ibu kota. Ajakannya disampaikan di Jakarta, dengan pesan jelas: keamanan bukan cuma urusan aparat, tapi juga tanggung jawab bersama warga.

Warga Jakarta, di tengah dinamika politik dan mobilitas kota yang nggak pernah tidur, isu keamanan selalu jadi perhatian utama. Dalam momen pertemuan dengan FBR yang diberitakan VIVA.co.id, Pramono menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, aparat, dan ormas lokal agar Jakarta tetap kondusif, khususnya menjelang dan setelah event-event besar maupun masa politik yang berpotensi memicu tensi di jalanan.

Pramono Gandeng FBR: Jaga Jakarta Tetap Kondusif

Dalam penjelasannya, Pramono mengajak FBR untuk ikut aktif mengamankan lingkungan masing-masing. Bukan dalam bentuk aksi main hakim sendiri, tapi lewat pendekatan persuasif dan koordinasi dengan aparat resmi. FBR, yang selama ini dikenal punya basis kuat di kampung-kampung dan kawasan padat ibu kota, dinilai punya peran strategis sebagai “satpam sosial” di lapangan.

Pramono menegaskan, Jakarta sebagai etalase Indonesia harus mencerminkan suasana aman bagi semua, mulai dari pekerja kantoran di Sudirman, pedagang kaki lima di Tanah Abang, sampai keluarga di pinggiran Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Stabilitas keamanan jadi kunci kelancaran aktivitas ekonomi, transportasi, dan interaksi sosial di ruang publik.

Dalam konteks itu, ajakan ke FBR bukan hanya soal menjaga nama baik ormas, tapi juga menjaga citra Jakarta sebagai kota metropolitan yang bersahabat bagi pendatang maupun warga lokal Betawi. Apalagi, belakangan ini muncul kekhawatiran publik soal potensi gesekan horizontal dan kriminalitas jalanan di beberapa titik rawan.

“Jakarta ini rumah kita bareng. Pemerintah, aparat, dan ormas seperti FBR harus jalan bareng supaya kota tetap aman, kondusif, dan nyaman buat semua yang cari nafkah di sini,” demikian garis besar pesan Pramono dalam ajakannya.

Peran Ormas Betawi di Tengah Dinamika Kota

Anak Jakarta pasti familiar dengan rompi dan bendera FBR yang kerap terlihat di berbagai sudut kota: dari pos ronda di gang-gang sempit Jakarta Timur, sampai titik keramaian di Jakarta Barat dan pinggiran Depok atau Bekasi. Sebagai ormas berbasis kultural Betawi, FBR sudah lama mengklaim diri sebagai penjaga kampung dan pelindung warga kecil.

Namun, di sisi lain, tak bisa dipungkiri, ormas juga kerap disorot ketika terjadi gesekan, baik antar kelompok maupun dengan warga. Di sinilah pentingnya ajakan Pramono: mengarahkan energi solidaritas dan kekuatan massa ke hal-hal positif, seperti mencegah tawuran, mengawal kegiatan masyarakat, hingga membantu pengaturan lalu lintas saat acara besar di lingkungan.

FBR yang tersebar di kawasan padat seperti Condet, Cijantung, Cakung, hingga kawasan penyangga seperti Tangerang dan Bekasi, punya kemampuan mobilisasi cepat. Jika diarahkan ke kegiatan penjagaan keamanan yang terkoordinasi, ini bisa jadi nilai tambah untuk menciptakan rasa aman di tingkat akar rumput.

Baca Juga: Update Lalu Lintas & Pengalihan Jalan di Jakarta

Jakarta Aman, Aktivitas Warga Tetap Lancar

Buat commuters yang tiap hari bolak-balik dari Bodetabek ke Jakarta, kondisi kota yang aman dan kondusif itu efeknya langsung kerasa. Minim gesekan di jalan berarti perjalanan lebih lancar, potensi penutupan jalan karena konflik massa berkurang, dan aktivitas ekonomi di pasar, perkantoran, sampai mal bisa berputar normal.

Pramono menyoroti bahwa keamanan Jakarta bukan cuma soal mencegah kriminalitas besar, tapi juga menjaga agar gesekan kecil di lapangan tidak membesar. Misalnya, cekcok parkir liar, salah paham antar kelompok pemuda, hingga potensi benturan saat konvoi atau kegiatan politik di ruang terbuka. Di titik-titik seperti inilah, peran ormas lokal, termasuk FBR, dinilai bisa jadi penyangga pertama.

Dengan komunikasi yang baik antara FBR, RT/RW, dan aparat kepolisian di tingkat sektor dan polres, konflik yang muncul bisa diredam lebih cepat. Koordinasi ini yang diharapkan terus diperkuat setelah ajakan Pramono, apalagi Jakarta akan terus menggelar banyak event skala nasional maupun internasional.

“Kota yang aman bikin orang betah kerja, betah usaha, dan betah tinggal. Itu investasi jangka panjang Jakarta sebagai pusat ekonomi dan budaya,” menjadi salah satu pesan kunci yang digarisbawahi dari ajakan tersebut.

Imbauan ke Warga: Laporkan, Bukan Rekam Saja

Buat Sobat jkt.info yang sering jadi saksi berbagai kejadian di jalan—dari cekcok antar pengendara sampai keributan di area publik—ajakan ini juga menyentuh peran warga biasa. Pramono mengingatkan, budaya “diam dan cuma rekam pakai HP” ketika ada keributan jangan sampai jadi kebiasaan.

Warga diminta lebih aktif melaporkan kejadian ke aparat atau pengurus lingkungan, baik lewat kanal resmi seperti call center kepolisian, command center Pemprov DKI, hingga jalur informal ke pengurus RT/RW atau tokoh ormas yang dipercaya. Kebiasaan responsif seperti ini diharapkan bisa bikin potensi konflik cepat diurai sebelum merembet.

Di tingkat kampung, kehadiran ormas seperti FBR yang sudah diajak langsung oleh Pramono diharapkan bisa berfungsi sebagai penghubung antara warga dan penegak hukum. Dengan catatan, semua bergerak dalam koridor hukum, bukan justru membuat “hukum versi sendiri” di lapangan.

Baca Juga: Info Terkini Keamanan & Patroli Malam Jakarta

Informasi Terkait

Untuk Anak Jakarta yang ingin tetap aman dan nyaman beraktivitas, berikut beberapa poin praktis yang sejalan dengan ajakan Pramono kepada FBR:

  • Kenali kontak darurat di wilayah kamu: nomor polsek, polres, dan call center Pemprov.
  • Jika tinggal di kawasan yang ada pos ormas seperti FBR, simpan juga kontak koordinator wilayah yang bisa diajak komunikasi cepat saat ada kejadian.
  • Hindari ikut berkumpul di kerumunan yang berpotensi ricuh. Prioritaskan keselamatan pribadi.
  • Laporkan aktivitas mencurigakan di lingkungan, terutama saat malam hari atau di gang sepi.
  • Dukung upaya penguatan keamanan lingkungan seperti ronda malam dan pemasangan CCTV di titik rawan.

Ajakan Pramono ajak FBR jaga kota Jakarta pada dasarnya mengingatkan lagi: Jakarta ini rumah bersama. Keamanan kota bukan sekadar headline berita, tapi sesuatu yang langsung terasa ketika kamu pulang malam dari kantor, jemput anak di sekolah, atau pulang naik KRL dan MRT saat jam sibuk. Selama semua pihak jalan bareng—pemerintah, aparat, ormas, dan warga—Jakarta punya peluang besar untuk tetap jadi kota yang sibuk, tapi tetap aman dan kondusif.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %