jkt.info – Mal ganti pagar dengan pohon jadi sorotan baru soal tata kota Jakarta. Menteri Dalam Negeri Pramono Anung (mengacu pada pemberitaan Suara.com) mendorong pengelola pusat perbelanjaan di Jakarta mengganti pagar tinggi dan masif dengan deretan pohon, demi membuat ibu kota terlihat lebih aman, hijau, dan ramah pejalan kaki.
Warga Jakarta yang tiap hari wara-wiri di koridor Sudirman–Thamrin, Kuningan, Kelapa Gading, sampai Bintaro, pasti familiar dengan deretan mal bercorak megapolitan yang kadang tertutup pagar tinggi, dinding masif, atau parkiran terbuka. Usulan ini ingin mengubah tampilan itu: dari tembok keras jadi barisan pohon, dari kesan tertutup jadi lebih terbuka.
Jakarta Harus Terlihat Aman dan Hijau
Menurut penjelasan yang berkembang, dorongan “mal ganti pagar dengan pohon” berangkat dari dua tujuan utama: rasa aman dan kualitas ruang hijau. Di banyak titik Jakarta, pagar tinggi malah membuat trotoar terasa sepi, gelap, dan kurang bersahabat, terutama di malam hari. Sebaliknya, fasad yang terbuka dengan tanaman dan aktivitas manusia justru bisa menambah rasa aman karena area lebih mudah terpantau.
Dari sudut pandang tata kota modern, wajah kota yang sehat itu fasadnya hidup: ada pepohonan, ada jendela, ada aktivitas, bukan deretan tembok tanpa wajah. Jakarta sendiri sudah mulai bergerak ke arah ini lewat penataan trotoar Sudirman–Thamrin, Cikini, Tebet, dan beberapa kawasan transit oriented development (TOD) di sekitar MRT dan KRL. Usulan penggantian pagar tinggi dengan pohon di area mal bisa jadi kelanjutan dari tren itu.
Selain itu, Jakarta masih butuh tambahan ruang hijau, terutama di kawasan bisnis dan komersial yang selama ini didominasi beton dan aspal. Pohon di tepi jalan bukan sekadar pemanis, tapi juga membantu menurunkan suhu, menyaring polusi, dan membuat pengalaman berjalan kaki lebih nyaman.
Baca Juga: Update Penataan Trotoar Jakarta Terbaru
Dari Pagar Tinggi ke Lanskap Hijau: Apa yang Berubah?
Kalau usulan ini dijalankan serius, apa saja yang mungkin berubah di depan mal–mal Jakarta?
- Fasad lebih terbuka: Pagar tinggi berpotensi diganti kombinasi pohon pelindung, semak, dan elemen lanskap rendah yang tetap membatasi area privat, tapi tidak menutup pandangan total dari jalan.
- Trotoar lebih nyaman: Pejalan kaki tidak lagi berjalan di samping dinding beton panas, melainkan di bawah naungan pohon yang memberi keteduhan, terutama siang hari saat terik.
- Pencahayaan lebih baik: Dengan konsep terbuka, lampu jalan dan lampu fasad mal bisa saling mendukung menciptakan jalur pejalan yang terang dan minim sudut gelap.
- Interaksi dengan kota: Mal bisa menghadirkan area duduk terbuka, coffee corner semi-outdoor, atau ruang tunggu ojek online yang lebih manusiawi di sisi jalan.
Buat commuters dan Anak Jakarta yang sering transit di depan mal untuk ganti moda transportasi atau sekadar nunggu teman, perubahan ini akan sangat terasa di level keseharian. Jalan kaki dari halte TransJakarta ke pintu mal, misalnya, bisa jauh lebih nyaman.
Konsep “mal ganti pagar dengan pohon” sejalan dengan tren kota-kota dunia yang membuka fasad bangunan komersial ke ruang publik, sambil menambah vegetasi sebagai pendingin alami dan peneduh pejalan kaki.
Tantangan untuk Pengelola Mal dan Pemerintah Daerah
Tentu, mengubah pagar tinggi jadi lanskap hijau bukan hal instan. Ada beberapa tantangan yang harus dibereskan bareng-bareng oleh pengelola mal, pemkot, dan juga warga:
- Aspek keamanan: Selama ini pagar tinggi dianggap proteksi utama dari tindak kriminal. Kalau diganti vegetasi dan pagar rendah, perlu desain yang tetap mengamankan area tanpa menutup diri dari ruang publik.
- Perizinan dan regulasi: Pemerintah daerah perlu menyiapkan aturan teknis yang jelas: berapa tinggi maksimal pagar, berapa persen fasad yang harus hijau, jenis tanaman yang direkomendasikan, hingga jarak dari jalur utilitas.
- Perawatan pohon: Pohon yang ditanam harus dirawat serius: pemangkasan, penyiraman, hingga pemilihan jenis yang akarnya tidak merusak trotoar atau kabel bawah tanah.
- Koordinasi dengan proyek lain: Di beberapa titik Jakarta, trotoar, ducting kabel, dan saluran air sedang atau akan ditata. Desain lanskap mal harus sinkron, bukan berdiri sendiri.
Warga Jakarta juga punya peran: ikut menjaga, tidak merusak tanaman, dan memanfaatkan ruang pejalan kaki dengan tertib. Tanaman yang dirawat tapi jadi tempat parkir liar atau lapak semrawut ujung-ujungnya merusak tujuan awal: menciptakan kota yang aman dan hijau.
Dampak ke Pengalaman Warga Jakarta Sehari-hari
Bagi Sobat jkt.info yang lebih banyak berjalan kaki atau naik transportasi umum, kebijakan “mal ganti pagar dengan pohon” ini potensial mengubah ritme harian. Bayangkan rute dari stasiun MRT Blok M BCA ke Blok M Plaza yang makin teduh, atau akses pejalan di sekitar Kelapa Gading dan Alam Sutera yang lebih hijau dan fotogenik buat konten.
Beberapa dampak positif yang bisa dirasakan:
- Waktu jalan kaki terasa lebih singkat karena lingkungan visualnya menarik dan teduh.
- Spot nongkrong spontan di area luar mal bisa muncul seiring hadirnya bangku, planter box, dan ruang duduk di bawah pohon.
- Rasa aman meningkat kalau desainnya membuat area lebih terang, ramai, dan mudah dipantau CCTV maupun petugas keamanan.
- Kenyamanan pengguna transportasi umum yang sering menyusuri koridor depan mal semakin baik, terutama saat hujan gerimis atau panas terik.
Baca Juga: Rencana Penambahan Ruang Terbuka Hijau Jakarta
Informasi Terkait: Apa yang Bisa Dilakukan Warga?
Anak Jakarta tidak harus menunggu semua kebijakan top-down rampung. Ada beberapa hal praktis yang bisa dilakukan untuk mendukung gagasan “mal ganti pagar dengan pohon” ini:
- Suarakan preferensi: Saat ikut diskusi publik, musrenbang, atau forum warga, dorong konsep fasad terbuka dan hijau di kawasan kalian.
- Dukung mal yang pro-ruang publik: Pilih pusat belanja yang menyediakan trotoar nyaman, ruang tunggu ojol yang rapi, dan lanskap hijau di sisi jalan.
- Jaga kebersihan & tanaman: Terlihat sepele, tapi tidak merusak pot tanaman, tidak membuang sampah di area hijau, dan menggunakan fasilitas sesuai fungsinya itu kunci.
- Dokumentasikan perubahan: Potret sebelum-sesudah penataan dan sebar di media sosial, supaya jadi contoh baik buat kawasan lain.
Pada akhirnya, wajah Jakarta bukan cuma ditentukan gedung pencakar langit dan mal megah, tapi juga seberapa nyaman trotoar di depannya untuk dilalui dan dinikmati. Kalau usulan “mal ganti pagar dengan pohon” ini benar-benar diwujudkan secara konsisten, koridor-koridor utama ibu kota bisa berubah jadi jalur urban hijau yang bikin betah jalan kaki, bukan sekadar jalur buru-buru pindah moda.
Warga Jakarta, pantau terus perkembangan regulasi dan implementasi konsep ini di kawasan tempat kalian beraktivitas. Kalau ada mal di sekitar kantor atau rumah yang mulai berbenah fasadnya jadi lebih hijau dan terbuka, kirim fotonya ke redaksi jkt.info—biar makin banyak contoh baik yang bisa ditiru di sudut-sudut kota lain.
