Petugas TPS3R Jakarta lembur malam hari akibat kebijakan rem sampah ke Bantargebang
Petugas TPS3R Jakarta lembur malam hari akibat kebijakan rem sampah ke Bantargebang
0 0
Read Time:4 Minute, 51 Second

jkt.infoRem sampah ke Bantargebang bikin sistem persampahan DKI Jakarta kembali disorot. Untuk mengurangi beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Pemprov DKI mengandalkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) di dalam kota yang kini terpaksa kerja lembur menahan laju sampah warga.

Buat Sobat jkt.info yang tiap hari buang sampah di rumah, apartemen, atau kantor, kebijakan mengerem volume sampah ke Bantargebang artinya sampah makin banyak “diolah” dulu di Jakarta. TPS3R jadi garda depan, mulai dari pemilahan, pengomposan, sampai daur ulang. Konsekuensinya, beberapa TPS3R di ibu kota harus menambah jam kerja dan kapasitas demi mencegah gunungan sampah di lingkungan sekitar.

Kenapa Jakarta Harus Rem Sampah ke Bantargebang?

Bantargebang yang berada di wilayah Kota Bekasi sudah puluhan tahun jadi lokasi utama pembuangan sampah Jakarta. Volume sampah harian Jakarta yang bisa tembus lebih dari 7.000 ton per hari membuat umur lahan di sana makin tertekan. Di tengah isu kapasitas dan lingkungan, kebijakan rem sampah ke Bantargebang muncul sebagai langkah darurat sekaligus transisi menuju pengelolaan sampah yang lebih modern.

Pemerintah daerah di sisi lain juga didorong untuk mengurangi ketergantungan pada sistem “angkut-buang”. Alih-alih semua sampah diangkut ke TPST Bantargebang, sebagian harus selesai diolah di tingkat kota dan bahkan di sumber, yakni permukiman, pasar, dan kawasan komersial. Di sinilah TPS3R naik kelas dari sekadar fasilitas pendukung menjadi tulang punggung pengurangan sampah.

Baca Juga: Update Kebijakan Pengelolaan Sampah Jakarta

Tugas Berat TPS3R: Dari TPS Biasa Jadi Mini Pabrik Daur Ulang

TPS3R pada dasarnya adalah TPS (Tempat Penampungan Sementara) yang ditingkatkan fungsinya. Bukan cuma tempat nunggu truk angkut ke Bantargebang, tapi juga lokasi pengolahan awal. Di banyak titik Jakarta, TPS3R dilengkapi area pemilahan, mesin pencacah, instalasi kompos, hingga ruang penyimpanan material yang bisa dijual kembali seperti plastik, kertas, dan logam.

Dengan adanya kebijakan membatasi sampah ke Bantargebang, alur kerja TPS3R berubah total. Jika dulu ritme kerja mengikuti jadwal truk pengangkut, sekarang ritme ditambah dengan target pengurangan di tempat. Artinya:

  • Jam operasional bisa melar sampai malam untuk pemilahan dan pengolahan.
  • Tenaga kerja kebersihan harus dibagi untuk pengumpulan keliling dan pemrosesan di TPS3R.
  • Ruang simpan di TPS3R mudah penuh kalau pemilahan tidak seimbang dengan ritme penjualan material daur ulang.

“Begitu sampah ke Bantargebang dibatasi, TPS3R di Jakarta otomatis jadi ‘buffer’. Supaya lingkungan nggak kebanjiran sampah, mau nggak mau TPS3R kerja lembur,” demikian gambaran umum kondisi yang banyak dikeluhkan pengelola di lapangan.

Dampak ke Warga: Bau, Tumpukan, atau Justru Peluang?

Warga Jakarta yang tinggal dekat TPS atau TPS3R sudah mulai merasakan perubahan. Di beberapa lokasi, tumpukan sampah terlihat lebih lama mengendap sebelum diangkut, terutama jika pemilahan belum berjalan optimal. Risiko bau dan serangga jelas meningkat kalau manajemen di lapangan tidak sigap.

Namun di sisi lain, kebijakan rem sampah ke Bantargebang juga membuka peluang. Semakin banyak RW dan kelurahan yang didorong membangun bank sampah, kompos bersama, dan program pemilahan dari rumah. Kalau sistem ini jalan, beban TPS3R berkurang karena yang masuk sudah berupa sampah residu, bukan lagi campuran semua jenis.

Buat Anak Jakarta yang biasa cuek soal sampah, fase ini sebenarnya momen penting: kalau partisipasi rendah, TPS3R akan terus kerja lembur dan lingkungan sekitar bisa terdampak. Kalau partisipasi naik, TPS3R bisa fokus ke sisa yang benar-benar tak bisa didaur ulang.

Strategi Lembur TPS3R: Tambah Shift Sampai Kolaborasi Komunitas

Untuk menyiasati pembatasan ke Bantargebang, sejumlah TPS3R di Jakarta mulai menerapkan beberapa strategi praktis:

  • Menambah shift malam untuk pemilahan dan pencacahan sehingga tumpukan tak terlalu tinggi di siang hari.
  • Mempercepat alur penjualan material daur ulang ke pengepul agar ruang penyimpanan cepat kosong.
  • Melibatkan komunitas lokal dan bank sampah RW untuk mengambil langsung material bernilai dari TPS3R.
  • Menerapkan jadwal buang sampah lebih ketat per RT/RW supaya aliran sampah bisa diprediksi dan diatur.

Baca Juga: Peta TPS dan TPS3R di Jakarta yang Perlu Kamu Tahu

“Kalau TPS3R hanya terima sampah campur, mau lembur sampai subuh pun tetap berat. Kuncinya tetap di pemilahan dari rumah,” demikian salah satu pesan kunci para pegiat lingkungan yang mendampingi warga di Jakarta.

Peran Pemprov DKI: Dari Fasilitas Sampai Edukasi

Pemprov DKI Jakarta tidak bisa hanya mengandalkan pengelola TPS3R di lapangan. Untuk membuat kebijakan rem sampah ke Bantargebang berjalan tanpa memicu krisis bau dan tumpukan, beberapa langkah strategis yang biasanya ditekankan meliputi:

  • Peningkatan kapasitas TPS3R: menambah alat, memperluas lahan, dan menyediakan sarana penunjang seperti truk sampah terpilah.
  • Insentif bagi RT/RW dan komunitas yang berhasil menurunkan volume sampah residu secara signifikan.
  • Kampanye massif pemilahan sampah di rumah, sekolah, perkantoran, dan kawasan komersial.
  • Percepatan proyek pengolah sampah skala kota (misalnya ITF atau fasilitas waste-to-energy) untuk mengurangi ketergantungan pada Bantargebang dalam jangka panjang.

Tanpa kombinasi infrastruktur dan perubahan perilaku, beban TPS3R akan terus tinggi dan lembur bisa menjadi “normal baru” yang justru menguras tenaga dan anggaran.

Apa yang Bisa Dilakukan Warga Jakarta?

Buat Commuters dan Anak Jakarta yang mobilitasnya tinggi, ada beberapa langkah simpel yang bisa langsung diterapkan supaya dampak rem sampah ke Bantargebang tidak berbalik jadi masalah di lingkungan tempat tinggal:

  • Pilah minimal 2 jenis sampah: organik (sisa makanan) dan anorganik (plastik, kertas, logam). Kalau bisa tambah kategori B3 (baterai, lampu, elektronik kecil).
  • Kurangi sampah makanan dengan porsi masak/beli secukupnya dan manfaatkan sisa untuk kompos jika memungkinkan.
  • Gunakan ulang kemasan dan tas belanja agar volume sampah anorganik menurun.
  • Gabung atau bikin bank sampah di lingkungan rumah, kos, atau kantor.
  • Patuhi jam buang sampah yang ditetapkan pengelola lingkungan supaya TPS3R bisa mengatur ritme lembur dengan lebih terukur.

Pada akhirnya, Jakarta butuh transisi serius dari kota yang hanya “buang ke Bantargebang” menjadi kota yang mengolah dan mengurangi sampah di sumber. TPS3R boleh saja lembur untuk sementara, tapi partisipasi warga yang akan menentukan apakah lembur ini jadi fase sementara atau justru permanen.

Buat Sobat jkt.info, mulai malam ini coba cek lagi: berapa kantong sampah yang keluar dari rumah atau kos kamu? Kalau bisa dipangkas setengah, beban Bantargebang berkurang, TPS3R nggak perlu lembur kelewatan, dan lingkungan Jakarta bisa sedikit lebih lega.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %