jkt.info – Penutupan emplasemen sampah TPU Tanah Kusir di Jakarta Selatan resmi dilakukan secara permanen oleh Pemprov DKI Jakarta. Area penampungan sementara sampah di dalam kompleks pemakaman itu tak lagi boleh digunakan warga maupun petugas sebagai lokasi kumpul dan buang sampah, menyusul keluhan bau, tumpukan sampah, dan gangguan kenyamanan di sekitar kawasan TPU.
Warga Jakarta, khususnya yang tinggal dan beraktivitas di sekitar Tanah Kusir, perlu menyesuaikan cara membuang sampah harian. Pemerintah akan mengalihkan pengelolaan ke TPS (Tempat Penampungan Sementara) resmi di luar area pemakaman dan memperketat pengawasan agar kebiasaan buang sampah sembarangan di dalam TPU tidak terulang.
Kenapa Emplasemen Sampah TPU Tanah Kusir Ditutup?
Emplasemen sampah di TPU Tanah Kusir selama ini berfungsi sebagai lokasi penampungan sementara sampah, baik dari aktivitas pemakaman, perawatan makam, hingga sampah rumah tangga yang “nebeng” dibuang oleh warga sekitar. Lama-kelamaan, volume sampah meningkat dan menimbulkan masalah serius: bau menyengat, lalat, hingga tumpukan sampah yang mengganggu pemandangan di area yang seharusnya menjadi tempat yang tenang untuk berdoa dan berziarah.
Dalam beberapa waktu terakhir, keluhan warga dan peziarah makin kencang terdengar. Pemerintah daerah lalu melakukan evaluasi pengelolaan sampah di area pemakaman besar, termasuk Tanah Kusir yang dikenal sebagai salah satu TPU terpadat dan paling sering dikunjungi di Jakarta Selatan.
Pemerintah DKI memutuskan penutupan permanen emplasemen sampah di TPU Tanah Kusir demi menjaga kenyamanan peziarah, kebersihan lingkungan pemakaman, dan mengurangi praktik buang sampah sembarangan di area makam.
Penutupan ini juga sejalan dengan upaya Pemprov DKI mengurangi titik-titik pembuangan sampah liar (TPS liar) yang sering muncul di ruang publik, pinggir jalan, hingga area pemakaman di berbagai sudut Jakarta.
Dampak ke Warga dan Peziarah di Sekitar Tanah Kusir
Buat Sobat jkt.info yang rumahnya di sekitar Tanah Kusir atau sering lewat kawasan ini, penutupan emplasemen sampah akan terasa dalam beberapa bentuk:
- Tidak ada lagi titik kumpul sampah di dalam TPU – Sampah dari kegiatan pemakaman dan perawatan makam harus langsung dikelola dan diangkut keluar, bukan ditumpuk di satu emplasemen besar.
- Perubahan rute petugas angkut sampah – Truk angkut sampah akan lebih sering mondar-mandir ke TPS resmi di luar area TPU. Lalu lintas truk di jam-jam tertentu bisa sedikit meningkat.
- Peziarah diimbau lebih tertib – Warga yang datang berziarah diminta membawa pulang sampah pribadi (botol minum, plastik bungkus bunga, sisa makanan) atau membuangnya langsung ke tempat sampah kecil yang disediakan, bukan menumpuk di satu titik.
Bagi warga yang terbiasa “titip” sampah rumah tangga di area dekat TPU, kebiasaan ini harus berhenti total. Sampah rumah tangga wajib dibuang lewat jalur resmi: petugas kebersihan lingkungan/RW atau TPS resmi yang sudah ditentukan kelurahan.
Baca Juga: Update Kebijakan Pengelolaan Sampah Jakarta
Pengelolaan Sampah Pasca Penutupan Emplasemen
Pertanyaannya, setelah penutupan permanen ini, sampah-sampah yang selama ini berkumpul di emplasemen Tanah Kusir akan dikemanakan?
Dinas Lingkungan Hidup dan pengelola TPU umumnya menerapkan beberapa skema:
- Penguatan TPS resmi di luar TPU – Sampah dari area pemakaman akan langsung diangkut ke TPS yang sudah tercatat di sistem Pemprov DKI, bukan lagi ditumpuk di area makam.
- Frekuensi pengangkutan lebih sering – Mengingat Tanah Kusir adalah TPU besar dan ramai, jadwal angkut sampah akan disesuaikan agar tidak terjadi penumpukan di titik sementara.
- Pemilahan sampah di sumber – Pengelola mendorong pemisahan sampah organik (daun kering, bunga layu, rumput) dan non-organik (plastik, botol) agar mudah dikelola, dikomposkan, atau didaur ulang.
Langkah ini juga beriringan dengan program pengurangan sampah ke TPA Bantar Gebang. Dengan pemilahan di tingkat TPU, beban TPA bisa sedikit berkurang, sementara lingkungan pemakaman jadi lebih bersih, rapi, dan nyaman.
Nuansa Baru TPU Tanah Kusir: Lebih Bersih, Lebih Nyaman
Buat Anak Jakarta yang punya keluarga dimakamkan di Tanah Kusir, perubahan ini diharapkan terasa positif. Tanpa emplasemen sampah di dalam area, suasana TPU bisa lebih tertata dan tidak lagi identik dengan bau menyengat atau pemandangan tumpukan kantong plastik hitam.
Ke depan, pengelola TPU Tanah Kusir bisa fokus pada:
- Penataan jalur peziarah agar lebih rapi dan mudah diakses, terutama saat momen ramai seperti Lebaran, Maulid, atau akhir pekan.
- Penambahan titik tong sampah kecil dengan desain rapi di beberapa sudut strategis, bukan satu titik besar seperti emplasemen.
- Patroli kebersihan untuk mencegah warga kembali membiasakan diri buang sampah sembarangan di sudut-sudut sunyi TPU.
Baca Juga: Rute Transportasi Umum ke TPU Besar di Jakarta
Imbauan untuk Warga dan Peziarah
Commuters dan warga sekitar Tanah Kusir, ada beberapa hal praktis yang bisa dilakukan agar penutupan emplasemen sampah ini benar-benar berdampak baik:
- Ikuti jam dan titik buang sampah resmi di lingkungan rumah. Jangan lagi menjadikan pagar atau sisi luar TPU sebagai TPS dadakan.
- Kurangi sampah sekali pakai saat berziarah: bawa tumbler sendiri, kurangi kantong plastik berlapis-lapis, dan gunakan wadah yang bisa dipakai ulang.
- Bawa kantong sampah kecil saat ke makam, lalu bawa pulang kembali jika di lokasi sedang tidak tersedia tempat sampah yang memadai.
- Lapor ke RT/RW atau kelurahan jika melihat muncul titik baru pembuangan sampah liar di sekitar Tanah Kusir.
Penutupan permanen emplasemen sampah di TPU Tanah Kusir adalah langkah penting dalam merapikan pengelolaan sampah di Jakarta. Tapi pada akhirnya, kebersihan kota ini kembali ke kebiasaan kita sehari-hari. Warga Jakarta yang tertib buang sampah, lingkungan pun ikut naik kelas: lebih layak, lebih manusiawi, dan lebih enak dipandang.
Jadi, Sobat jkt.info yang sering lewat Tanah Kusir atau punya agenda ziarah rutin, pastikan ikut jaga kebersihan. TPU yang bersih bukan cuma soal estetika, tapi juga bentuk penghormatan ke mereka yang sudah lebih dulu berpulang.
