Suasana Harlah 100 Tahun NU di Jakarta dengan massa jamaah dan gedung kota berlatar cahaya oranye
Suasana Harlah 100 Tahun NU di Jakarta dengan massa jamaah dan gedung kota berlatar cahaya oranye
0 0
Read Time:5 Minute, 42 Second

jkt.infoHarlah 100 Tahun NU di Jakarta jadi sorotan warga dan jamaah Nahdlatul Ulama setelah sejumlah tokoh besar seperti Rais Aam PBNU, Gus Ipul, dan Presiden terpilih Prabowo Subianto tidak tampak hadir dalam peringatan akbar yang digelar di ibu kota. Acara yang digadang sebagai momentum sejarah ini justru ramai diperbincangkan karena daftar tamu yang tak lengkap.

Buat Sobat jkt.info yang mungkin terjebak macet di sekitar kawasan acara atau cuma menyimak dari layar HP, absennya tiga figur penting ini memunculkan banyak tanda tanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini soal teknis, agenda yang bentrok, atau ada dinamika politik dan internal organisasi yang lagi menghangat?

Gambaran Harlah 100 Tahun NU di Jakarta

Peringatan Harlah 100 Tahun NU di Jakarta digelar dengan skala besar, memanfaatkan ruang-ruang publik utama ibu kota. Massa jamaah dan warga memadati area sekitar lokasi, lengkap dengan atribut hijau-putih dan bendera NU yang berkibar di tengah lampu-lampu kota bernuansa jingga saat malam turun. Bagi commuters dan Anak Jakarta, acara ini bukan cuma agenda keagamaan, tapi juga jadi event sosial dan kultural yang mengubah ritme lalu lintas seharian.

Di lapangan, jalanan di sekitar kawasan acara mengalami penyesuaian arus lalu lintas. Sejumlah ruas dipadati bus rombongan dari berbagai daerah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Petugas kepolisian dan Dishub DKI berjaga untuk mengatur pergerakan kendaraan, mengingat posisi Jakarta sebagai pusat perayaan bikin efek domino ke mobilitas warga.

Baca Juga: Update Lalu Lintas Jakarta Saat Acara Akbar Keagamaan

Kenapa Rais Aam PBNU Tak Tampak Hadir?

Salah satu yang paling disorot adalah ketidakhadiran Rais Aam PBNU, figur tertinggi di struktur jam’iyah NU. Dalam tradisi organisasi besar seperti NU, apalagi di momen bersejarah satu abad, kehadiran Rais Aam biasanya jadi simbol restu, legitimasi, dan kekompakan jamaah.

Meski belum ada pernyataan resmi yang benar-benar rinci, ada beberapa kemungkinan penjelasan yang beredar di kalangan Nahdliyin dan pemerhati ormas Islam:

  • Faktor kesehatan atau agenda pribadi yang tidak memungkinkan hadir secara fisik di Jakarta.
  • Dinamika internal antara pengurus pusat, panitia, dan tokoh-tokoh daerah yang kadang berimbas ke kehadiran simbolik di acara besar.
  • Pembagian peran antara tokoh-tokoh NU di berbagai acara satu abad NU yang tersebar di beberapa kota, bukan hanya di Jakarta.

Sampai informasi resmi dan lengkap dirilis, publik diminta untuk tidak langsung berspekulasi liar. Namun, di level wacana, ketidakhadiran Rais Aam jelas memberi warna tersendiri pada narasi harlah kali ini.

Gus Ipul dan Peta Tokoh NU di Luar Jakarta

Nama lain yang disebut absen adalah Gus Ipul (Saifullah Yusuf), politisi yang juga dikenal dekat dengan NU dan pernah memegang beberapa posisi penting dalam struktur organisasi maupun pemerintahan. Bagi sebagian warga, apalagi yang mengikuti dinamika NU dari Jawa Timur, sosok Gus Ipul identik dengan agenda-agenda kultural dan konsolidasi Nahdliyin.

Ketidakhadiran Gus Ipul di Jakarta bisa jadi terkait agenda lokal, fokus pada basis politik dan kultural di daerah, maupun pertimbangan strategis lainnya. NU sendiri adalah organisasi yang jaringannya sangat luas, sehingga peringatan satu abad ini tidak hanya terkonsentrasi di ibu kota.

“Harlah 100 Tahun NU kali ini menunjukkan bahwa NU bukan hanya milik satu kota, bahkan bukan hanya milik Jakarta. Banyak tokoh yang mungkin memilih menguatkan basis di daerah dalam rangkaian peringatan yang lebih luas,” demikian salah satu pengamat ormas Islam yang dihubungi secara terpisah.

Bagi Anak Jakarta yang lebih akrab dengan wajah NU di media sosial dan acara-acara akbar di ibu kota, absennya beberapa figur tenar ini terasa janggal. Namun buat jaringan NU di daerah, aktivitas mereka mungkin justru sangat terasa di luar sorotan panggung utama Jakarta.

Prabowo Subianto dan Sensitivitas Politik di Panggung NU

Nama ketiga yang ramai diperbincangkan adalah Prabowo Subianto, presiden terpilih yang belakangan ini kerap hadir di berbagai acara ormas dan keagamaan. Di Jakarta, kehadiran Prabowo biasanya juga diikuti pengamanan ekstra dan liputan media yang masif.

Absennya Prabowo di Harlah 100 Tahun NU di Jakarta memunculkan beberapa spekulasi:

  • Penjadwalan yang padat, mengingat masa transisi menuju pemerintahan baru biasanya penuh agenda persiapan.
  • Pertimbangan etika dan sensitivitas politik, karena NU adalah ormas keagamaan yang secara prinsip ingin menjaga jarak dari klaim-klaim politik praktis.
  • Distribusi kehadiran di berbagai acara keagamaan dan kebangsaan, tidak terfokus hanya ke satu ormas.

Di tengah lanskap politik nasional yang lagi panas-panasnya, panggung besar keagamaan di Jakarta sangat mudah ditarik ke arah narasi elektoral. Karena itu, absennya Prabowo juga bisa dibaca sebagai upaya menjaga ruang acara agar tetap fokus pada sejarah dan spirit ke-NU-an, bukan sekadar panggung dukungan politik.

Baca Juga: Dinamika Politik Nasional dan Peran Ormas Islam di Jakarta

Dinamika NU, Jakarta, dan Ruang Publik

Jakarta bukan sekadar lokasi teknis untuk peringatan seratus tahun NU. Ibu kota adalah ruang simbolik tempat berbagai kekuatan kultural, politik, dan keagamaan bertemu. Setiap acara besar keagamaan di kota ini, termasuk Harlah NU, otomatis berkelindan dengan isu:

  • Rebutan panggung simbolik antara tokoh nasional dan lokal.
  • Pengelolaan citra ormas di mata publik urban yang serba cepat dan digital.
  • Konstelasi menjelang dan pasca pemilu yang menjadikan setiap pertemuan massa sebagai potensi pembentukan opini.

Karena itu, siapa yang hadir dan siapa yang tidak hadir di Harlah 100 Tahun NU di Jakarta jadi penting, bukan hanya bagi jamaah, tapi juga bagi pembaca peta politik dan sosial di ibu kota.

Dampak ke Warga Jakarta dan Jamaah NU Urban

Bagi Warga Jakarta, terutama Nahdliyin urban, acara ini tetap jadi ajang silaturahmi dan penguatan identitas keagamaan. Walaupun beberapa tokoh besar absen, ribuan jamaah tetap mengikuti rangkaian doa, zikir, dan tausiyah yang digelar hingga malam dengan latar langit kota bersemburat jingga dari lampu jalan dan gedung tinggi.

Dari sisi praktis, yang paling terasa adalah:

  • Lalu lintas padat di sekitar lokasi, terutama menjelang dan sesudah acara.
  • Kenaikan aktivitas ekonomi informal dari pedagang kaki lima, penjual makanan, dan layanan transportasi online.
  • Ekspos digital di media sosial, dengan banyak konten foto dan video bernuansa hijau-putih NU berpadu lampu oranye kota Jakarta.

Imbauan dan Catatan untuk Acara Besar Ke Depan

Untuk ke depan, terutama jika Jakarta kembali jadi tuan rumah acara mega keagamaan seperti ini, ada beberapa catatan buat penyelenggara dan pemerintah kota:

  • Transparansi informasi tamu undangan agar publik tidak sibuk berspekulasi soal siapa yang hadir dan absen.
  • Koordinasi lintas lembaga (ormas, Pemprov DKI, kepolisian, Dishub) supaya dampak ke lalu lintas dan transportasi publik bisa diminimalkan.
  • Komunikasi ke warga melalui kanal resmi dan media lokal seperti jkt.info untuk info rekayasa lalu lintas, jam puncak, dan akses transportasi umum.

Pada akhirnya, satu abad NU adalah momentum besar yang melampaui kehadiran perorangan. Namun, di kota sebesar Jakarta, detail seperti ketidakhadiran Rais Aam, Gus Ipul, dan Prabowo tetap akan jadi bahan obrolan di kantor, di KRL, hingga di grup WhatsApp keluarga.

Commuters dan Anak Jakarta yang melintas di sekitar lokasi acara diimbau tetap memperhatikan pengumuman resmi soal penutupan jalan dan rekayasa lalu lintas. Gunakan transportasi umum bila memungkinkan, cek aplikasi peta lalu lintas sebelum berangkat, dan siapkan waktu tempuh ekstra jika melewati kawasan acara keagamaan berskala besar seperti peringatan Harlah 100 Tahun NU di Jakarta.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %