jkt.info – Cara Jakarta atasi kemacetan kembali jadi sorotan setelah beredar video singkat yang menampilkan konten kreator Mamdani melempar pertanyaan kepo soal solusi macet ibu kota, lalu dijawab langsung oleh sosok bernama Pramono. Dalam video yang viral di media sosial itu, keduanya membahas bagaimana Jakarta berusaha keluar dari status salah satu kota termacet di dunia.
Warga Jakarta, terutama para commuters yang tiap hari berjibaku di Sudirman, Gatot Subroto, sampai Kalimalang, langsung ramai mengomentari jawaban yang disampaikan. Obrolan ringan itu menyentuh hal-hal serius: mulai dari pembatasan kendaraan, pembangunan transportasi publik, sampai budaya naik kendaraan pribadi yang susah diubah.
Cara Jakarta Atasi Kemacetan Menurut Pramono
Dalam video tersebut, Mamdani secara lugas menanyakan kenapa Jakarta masih terasa macet meski sudah punya MRT, LRT, dan bus Transjakarta yang makin hari makin rapih. Pramono menjawab dengan penjelasan bernuansa kebijakan: kemacetan Jakarta tidak bisa selesai hanya dengan satu proyek, tapi lewat kombinasi regulasi dan perubahan perilaku.
Pramono menyoroti beberapa poin kunci yang sejalan dengan kebijakan transportasi ibu kota dalam beberapa tahun terakhir:
- Perluasan layanan dan jaringan transportasi publik (MRT, LRT, KRL, dan Transjakarta) agar benar-benar menjangkau kantong permukiman dan kawasan perkantoran.
- Pengendalian penggunaan kendaraan pribadi lewat kebijakan tarif parkir mahal, perluasan kawasan berbayar, dan pembatasan parkir liar.
- Integrasi antarmoda agar warga tidak ribet pindah dari satu moda ke moda lain, termasuk penyediaan trotoar yang nyaman, halte terhubung, dan feeder.
- Penerapan teknologi seperti manajemen lalu lintas berbasis CCTV, pengaturan lampu merah yang adaptif, hingga sistem pembayaran non-tunai untuk semua moda.
Menurutnya, Jakarta sedang dalam fase transisi: dari kota yang selama puluhan tahun dimanjakan kendaraan pribadi, menuju kota yang mengandalkan transportasi publik sebagai tulang punggung mobilitas.
Baca Juga: Info Terkini Kebijakan Jalan Berbayar di Jakarta
Budaya Naik Mobil & Motor, PR Besar Anak Jakarta
Jawaban Pramono di video yang diunggah 20detik itu juga menyinggung pola pikir. Banyak Anak Jakarta merasa naik mobil atau motor pribadi lebih nyaman dan ‘aman waktu’ dibanding naik transportasi umum, apalagi saat konektivitas antarmoda belum sempurna di semua titik.
Di lapangan, kita masih melihat:
- Motor memadati jalur-jalur sempit di permukiman dan tikungan yang mestinya tenang.
- Mobil parkir di bahu jalan perkantoran dan ruko, menggerus badan jalan dan bikin arus melambat.
- Sekolah dan kantor yang belum sepenuhnya mengatur jam masuk fleksibel, membuat jam sibuk pagi dan sore menumpuk di waktu yang sama.
Pramono menegaskan, sebelum berharap macet hilang, warga perlu mulai mengubah kebiasaan harian. Misalnya dengan memanfaatkan integrasi Transjakarta – KRL – MRT yang sudah berjalan di koridor-koridor utama, atau mulai membiasakan jalan kaki 5–10 menit dari rumah ke halte.
Proyek Transportasi Publik: Dari Koridor ke Koridor
Buat Sobat jkt.info yang sering lintas kota dari Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor, kondisi ini bukan cerita baru. Volume kendaraan yang masuk Jakarta tiap pagi via Jagorawi, Tol Cikampek, dan Tol Tangerang bisa sangat padat. Di sinilah pentingnya penguatan transportasi publik lintas daerah, yang juga sempat disinggung dalam diskusi di video tersebut.
Beberapa hal yang sejalan dengan poin Pramono antara lain:
- MRT dan LRT sebagai tulang punggung koridor utama, terutama di jalur-jalur perkantoran seperti Sudirman–Thamrin dan Kuningan.
- Transjakarta yang terus menambah rute pengumpan (feeder) ke permukiman di pinggiran seperti Cibubur, Bintaro, dan Cakung.
- KRL Commuter Line yang masih menjadi andalan jutaan commuters dari Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Target jangka panjangnya: semakin banyak warga yang merasa lebih praktis parkir di stasiun atau terminal, lalu lanjut perjalanan pakai angkutan massal ketimbang memaksa mobil mereka masuk sampai jantung kota.
Baca Juga: Update Rekayasa Lalu Lintas di Kawasan Sudirman
“Kalau mau Jakarta benar-benar berkurang macetnya, kuncinya dua: transportasi publiknya harus makin gampang diakses, dan kita sebagai pengguna juga harus rela pelan-pelan ninggalin kendaraan pribadi,” demikian garis besar jawaban Pramono dalam video yang dipersoalkan.
Regulasi: Dari Ganjil Genap ke Skema Berbayar
Salah satu concern Mamdani dalam video adalah efektivitas kebijakan yang sudah ada, misalnya ganjil genap. Warga bertanya-tanya: dengan berbagai aturan, kok rasanya jalanan tetap padat?
Pramono menjelaskan bahwa kebijakan seperti ganjil genap sebenarnya hanya alat sementara untuk menahan pertumbuhan kendaraan. Ke depan, Jakarta mengarah ke skema lebih permanen seperti jalan berbayar elektronik (ERP) dan pengetatan perizinan parkir, yang bertujuan membuat biaya membawa mobil ke pusat kota jadi semakin mahal.
Namun, ia mengingatkan, kebijakan semacam ini harus dibarengi dengan transportasi publik yang benar-benar siap. Kalau tidak, warga hanya akan merasa dipaksa tanpa diberi alternatif yang layak.
Informasi Terkait
Buat Anak Jakarta yang tiap hari berhadapan dengan kemacetan, ada beberapa hal praktis yang bisa mulai dilakukan sambil menunggu kebijakan dan infrastruktur selesai dibangun:
- Pertimbangkan kombinasi moda, misalnya motor atau sepeda sampai stasiun terdekat, lalu lanjut KRL/MRT.
- Manfaatkan aplikasi pemantau lalu lintas dan jadwal kereta/bus untuk menghindari titik paling parah.
- Jika kantor memungkinkan, ajukan skema kerja fleksibel atau hybrid untuk mengurangi jam berangkat di puncak kemacetan.
- Mulai biasakan naik transportasi umum di hari-hari tertentu untuk adaptasi pelan-pelan.
Buat pemerintah daerah Jabodetabek, tantangannya adalah menjaga ritme pembangunan infrastruktur transportasi massal, memastikan integrasi tiket dan jadwal, serta konsisten menegakkan aturan di jalan. Sementara buat warga, tantangannya ada di mindset: berani move on dari ketergantungan penuh pada mobil dan motor pribadi.
Pada akhirnya, cara Jakarta atasi kemacetan bukan hanya soal proyek besar atau regulasi baru, tapi soal kolaborasi. Pemerintah menyiapkan sistem, warga menyesuaikan kebiasaan. Selama dua-duanya jalan bareng, harapan melihat Jakarta yang lebih lancar di jam sibuk bukan cuma mimpi di layar video singkat, tapi bisa jadi kenyataan di jalanan yang kita lewati tiap hari.
