jkt.info – Gerakan Jaga Jakarta Bersih resmi dijalankan Pemprov DKI dengan mengerahkan 171.134 personel lintas dinas untuk menjaga kebersihan ruang kota, dari jalan protokol sampai gang permukiman. Program ini dibentuk untuk menjawab tantangan sampah harian Jakarta yang terus menumpuk dan potensi banjir saat musim hujan.
Buat Warga Jakarta yang tiap hari bergelut dengan macet, polusi, dan tumpukan sampah di sudut kota, gerakan ini jadi salah satu upaya serius pemerintah provinsi untuk bikin ibu kota lebih rapi, sehat, dan layak ditinggali. Personel disebar di lima wilayah kota administrasi plus Kepulauan Seribu dengan pola kerja terjadwal, mulai dari dini hari sampai malam.
171.134 Personel Disiagakan untuk Jaga Jakarta Tetap Bersih
Pemprov DKI mengonsolidasikan petugas dari berbagai instansi: Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Sumber Daya Air, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota, Satpol PP, hingga unsur kelurahan dan kecamatan. Totalnya mencapai 171.134 personel yang disiapkan untuk menyapu jalan, mengangkut sampah, merapikan taman, membersihkan saluran air, sampai menertibkan titik-titik pembuangan liar.
Distribusi personel difokuskan pada:
- Koridor utama seperti Sudirman-Thamrin, Kuningan, Gatot Subroto, dan kawasan perkantoran di Jakarta Pusat dan Selatan.
- Kawasan permukiman padat di Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur yang rawan genangan dan penumpukan sampah.
- Area transit seperti stasiun KRL, halte Transjakarta, terminal, dan simpul-simpul MRT/LRT.
- Ruang terbuka hijau, taman kota, dan jalur pedestrian yang jadi spot favorit warga untuk olahraga dan nongkrong.
Dengan jumlah personel sebesar itu, Pemprov menargetkan ritme kerja kebersihan kota bisa lebih responsif: tumpukan sampah tidak dibiarkan berhari-hari, selokan yang mampet bisa cepat ditangani, dan area publik strategis tetap terjaga tampilan visualnya.
Fokus: Sampah Harian, Banjir, dan Kenyamanan Warga
Jakarta menghasilkan ribuan ton sampah per hari yang sebagian besar masih bergantung pada sistem pengangkutan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Tanpa penanganan yang rapi, sampah ini bisa berujung di selokan, sungai, dan pinggir jalan, yang kemudian berdampak ke banjir dan kualitas hidup warga.
Melalui Gerakan Jaga Jakarta Bersih, personel difokuskan pada tiga lini utama:
- Kebersihan jalan dan trotoar – penyapuan manual dan mekanis, pengangkutan sampah di tong-tong komunal, dan penertiban titik buang sampah sembarangan.
- Saluran dan drainase – pengangkatan sedimen dan sampah di got, saluran penghubung, dan kali kecil untuk mencegah penyumbatan saat hujan lebat.
- Ruang publik dan Ruang Terbuka Hijau – menjaga taman kota, jalur hijau, dan area publik tetap bersih, nyaman, dan aman buat pejalan kaki maupun pesepeda.
Selain itu, Pemprov juga mendorong partisipasi warga dan komunitas, khususnya di lingkungan RT/RW. Kebersihan tidak lagi dipandang sebagai urusan “petugas oranye” semata, tapi jadi budaya bareng-bareng di tingkat kampung, rusun, dan perumahan.
“Jakarta tidak akan pernah benar-benar bersih kalau hanya mengandalkan petugas. Gerakan ini mengajak semua pihak, dari ASN sampai warga biasa, untuk ikut jaga Jakarta setiap hari,” demikian garis besar pesan yang disampaikan Pemprov dalam peluncuran program ini.
Nuansa Baru di Jalanan Jakarta: Pasukan Oranye Lebih Terlihat
Commuters yang tiap hari melintas Sudirman, Harmoni, atau Tendean mungkin sudah mulai notice: keberadaan petugas berseragam oranye dan hijau makin sering terlihat, terutama di jam-jam transisi seperti subuh dan malam hari. Mereka menyapu trotoar, mengangkut kantong sampah dari halte, sampai membersihkan median jalan yang biasanya luput dari perhatian.
Di pemukiman padat Jakarta Timur dan Jakarta Utara, petugas kebersihan dan PPSU (Pasukan Oranye) diperkuat dengan jadwal piket lebih terstruktur. Targetnya, tidak ada lagi tumpukan sampah yang menginap lebih dari satu hari di pinggir jalan utama lingkungan.
Baca Juga: Update Banjir Jakarta & Titik Rawan Genangan
Peran RT/RW, Komunitas, dan Warga Biasa
Walau Pemprov DKI sudah menurunkan ratusan ribu personel, peran warga tetap krusial. Tanpa perubahan kebiasaan, terutama soal buang sampah sembarangan, gerakan besar ini bisa mandek di tengah jalan. Karena itu, kampanye disandingkan dengan:
- Sosialisasi ke pengurus RT/RW untuk menerapkan jadwal kerja bakti rutin.
- Kolaborasi dengan komunitas lingkungan, komunitas lari, sepeda, dan pencinta taman kota untuk adopsi spot jalan atau taman tertentu.
- Edukasi di sekolah dan kampus agar generasi muda Jakarta terbiasa memilah sampah dan menjaga ruang publik.
Sejumlah kelurahan juga mulai memanfaatkan media sosial lokal untuk mengabarkan jadwal bersih-bersih, titik rawan sampah, dan ajakan partisipasi warga. Dengan begitu, gerakan ini tidak cuma jadi program pemerintah, tapi juga gerakan sosial warga kota.
Jakarta yang Lebih Layak Huni, Bukan Cuma Soal Estetika
Kebersihan kota bukan cuma urusan tampilan rapi buat feed Instagram. Di Jakarta, kebersihan berkaitan langsung dengan:
- Kesehatan – menurunkan risiko penyakit berbasis lingkungan seperti demam berdarah, diare, dan ISPA.
- Mobilitas – saluran air yang bersih membantu mengurangi potensi banjir yang bikin jalan-jalan utama macet total.
- Kenyamanan ruang publik – trotoar dan taman yang bersih bikin warga lebih nyaman berjalan kaki atau menggunakan transportasi publik.
Baca Juga: Rute Transportasi Umum Jakarta yang Ramah Pejalan Kaki
Tips Praktis Buat Anak Jakarta Dukung Gerakan Jaga Jakarta Bersih
Anak Jakarta yang sibuk tetap bisa ikut support Gerakan Jaga Jakarta Bersih dengan langkah sederhana:
- Sedia kantong kecil di tas untuk sampah pribadi kalau belum ketemu tempat sampah terdekat.
- Usahakan kurangi sampah sekali pakai saat ngopi atau jajan di jalan.
- Lapor via kanal resmi Pemprov (seperti JAKI atau kanal pengaduan lingkungan) kalau lihat tumpukan sampah liar atau saluran tersumbat.
- Ikut kerja bakti lingkungan kalau jadwalnya pas dengan waktu senggang.
Warga Jakarta mungkin tidak bisa mengubah wajah kota dalam semalam, tapi lewat gerakan terkoordinasi seperti ini, ditambah kebiasaan kecil yang konsisten, ibu kota bisa pelan-pelan lebih bersih, sehat, dan nyaman buat semua.
Penurunan 171.134 personel dalam Gerakan Jaga Jakarta Bersih jadi sinyal bahwa persoalan sampah dan kebersihan sudah masuk radar prioritas Pemprov. Tinggal bagaimana kolaborasi dengan warga dijaga, supaya Jakarta bukan cuma ramai, tapi juga rapi dan enak dipijak.
