Drainase Jakarta terbatas saat hujan lebat membuat jalanan tergenang air
Drainase Jakarta terbatas saat hujan lebat membuat jalanan tergenang air
0 0
Read Time:5 Minute, 31 Second

jkt.infoDrainase Jakarta terbatas jadi sorotan lagi, Warga Jakarta. Pakar hidrologi mengingatkan, jika curah hujan harian tembus di atas 200 mm, Jakarta hampir pasti berhadapan dengan banjir, terutama di kawasan langganan genangan dari Jakarta Pusat hingga Jakarta Utara.

Peringatan ini menguat seiring masuknya musim hujan dan potensi hujan ekstrem yang bisa terjadi kapan saja, baik dari hujan lokal di dalam kota maupun kiriman air dari hulu (Bogor dan Depok). Dengan kapasitas drainase yang belum ideal dan banyaknya titik sumbatan, air hujan dengan intensitas tinggi diprediksi tak akan tertampung penuh di saluran kota.

Baca Juga: Update Kondisi Banjir Jakarta & Pantauan Pintu Air

Drainase Jakarta Terbatas, Ini Penjelasan Teknisnya

Buat Anak Jakarta yang tiap musim hujan was-was, penting paham dulu gambaran besarnya. Secara sederhana, sistem drainase Jakarta terdiri dari saluran lingkungan (gang dan permukiman), saluran pengumpul (jalan-jalan besar), kali/sungai, lalu dipompa atau dialirkan ke laut. Idealnya, semua jalur ini lancar, elevasinya mendukung, dan kapasitasnya cukup besar.

Masalahnya, menurut berbagai kajian teknis yang sering disampaikan pemerintah daerah dan para ahli, beberapa hambatan utama di Jakarta antara lain:

  • Kapasitas saluran terbatas dibanding debit hujan ekstrem yang makin sering terjadi karena perubahan iklim.
  • Penyempitan dan pendangkalan kali dan saluran akibat sedimentasi dan bangunan liar.
  • Sampah dan endapan di gorong-gorong serta saluran mikro di permukiman padat.
  • Penurunan muka tanah (land subsidence) di Jakarta Utara dan sebagian Jakarta Barat–Utara, yang bikin area makin rendah dari permukaan laut.
  • Permukaan kedap air (beton, aspal, paving) makin luas, membuat air hujan sulit meresap.

Dengan kondisi seperti ini, curah hujan di atas 200 mm per hari bukan lagi sekadar deras, tapi sudah setara hujan ekstrem yang melampaui kemampuan sistem drainase Jakarta yang saat ini masih terbatas.

Hujan di Atas 200 MM per Hari, Kenapa Pasti Picu Banjir?

Biar kebayang, 200 mm hujan artinya 200 liter air turun ke setiap meter persegi permukaan. Bayangkan kawasan padat seperti Kelapa Gading, Grogol, atau Cempaka Putih dengan dominasi beton dan aspal. Tanpa ruang resapan yang cukup, hampir semua air harus ditampung saluran drainase.

Dalam banyak pemaparan teknis, para ahli mengklasifikasikan:

  • <50 mm/hari: hujan ringan-sedang, biasanya hanya picu genangan kecil jika saluran mampet.
  • 50–150 mm/hari: hujan lebat, berpotensi genangan di titik rawan seperti underpass, perlintasan tol, dan permukiman cekung.
  • >200 mm/hari: hujan ekstrem, apalagi jika berlangsung beberapa jam nonstop, hampir pasti memicu banjir di sejumlah kawasan Jakarta.

Ketika drainase Jakarta terbatas, air hujan yang turun lebih cepat dari kemampuan saluran mengalirkan air ke sungai atau pintu air. Akibatnya, air meluap ke jalan dan permukiman. Kondisi makin parah jika:

  • Air kiriman dari Bogor via Sungai Ciliwung, Cisadane, dan lainnya juga sedang tinggi.
  • Pasang laut (rob) di wilayah utara terjadi bersamaan, sehingga aliran ke laut tertahan.
  • Pompa belum semua berfungsi optimal atau terlambat dioperasikan.

Intinya, kombinasi hujan ekstrem >200 mm, saluran yang terbatas, serta tata ruang yang padat dan kedap air membuat banjir hampir tak terelakkan di sejumlah titik Jakarta.

Zona Rawan Banjir di Jakarta Saat Hujan Ekstrem

Commuters dan Warga Jakarta yang tiap hari bolak-balik kantor perlu tahu area yang paling sering ketiban dampak saat curah hujan tinggi:

  • Jakarta Pusat: sekitar Kemayoran, Gunung Sahari, dan kawasan rendah dekat rel atau underpass.
  • Jakarta Barat: Cengkareng, Kedoya, Daan Mogot, dan titik-titik di sepanjang saluran besar yang sering meluap.
  • Jakarta Timur: kawasan bantaran Ciliwung seperti Kampung Melayu, Bidara Cina, dan area Pulo Gadung tertentu.
  • Jakarta Utara: Pluit, Muara Angke, Penjaringan, Kelapa Gading, dan sekitar Waduk serta jalan-jalan utama yang dekat laut.
  • Jakarta Selatan: relatif lebih tinggi, tapi beberapa kawasan seperti Pondok Labu, Cipete, dan permukiman pinggir sungai tetap rawan.

Selain itu, underpass dan jalan cekungan seperti di sekitar Manggarai, Senen, dan beberapa titik di Sudirman–Thamrin kadang tergenang jika saluran dan pompa tidak bekerja maksimal.

Baca Juga: Proyek Normalisasi Sungai & Waduk di Jakarta

Upaya Pemerintah dan PR Besar Drainase Jakarta

Pemprov DKI Jakarta sudah beberapa tahun terakhir mendorong kombinasi program: normalisasi/ naturalisasi sungai, perbaikan drainase lingkungan, pembangunan waduk dan sumur resapan, hingga pengadaan pompa baru. Namun, dengan perkembangan kota yang super cepat, PR-nya masih besar.

Beberapa langkah yang sering disebut dalam rencana penanganan banjir Jakarta antara lain:

  • Meningkatkan kapasitas saluran utama di koridor-koridor rawan.
  • Rehabilitasi gorong-gorong lama yang terpendam, rusak, atau tertutup bangunan.
  • Penegakan aturan tata ruang di bantaran sungai dan saluran primer.
  • Pembangunan kolam retensi dan waduk di titik-titik strategis untuk menahan debit puncak hujan.
  • Optimalisasi rumah pompa, termasuk sistem pemantauan jarak jauh saat hujan lebat.

Namun, di lapangan, yang sering menghambat adalah keterbatasan lahan, konflik penataan permukiman padat, serta kebiasaan buang sampah sembarangan yang bikin saluran kecil cepat mampet.

Yang Bisa Dilakukan Warga Jakarta Saat Hujan Lebat

Sambil menunggu pembenahan besar-besaran selesai, Anak Jakarta tetap bisa ikut mengurangi risiko banjir di lingkungan masing-masing dan meminimalkan dampaknya, terutama ketika prakiraan cuaca menyebut potensi hujan lebat hingga ekstrem.

  • Bersihkan saluran depan rumah: pastikan got kecil dan lubang drainase tidak tertutup sampah atau sedimen.
  • Jangan parkir mobil di jalan cekungan: pindahkan ke tempat lebih tinggi jika ada potensi hujan ekstrem di atas 150–200 mm.
  • Simpan barang berharga di tempat tinggi, terutama di wilayah yang pernah kebanjiran sebelumnya.
  • Monitor info resmi dari BMKG, BPBD DKI, dan laporan warga via media sosial untuk tahu perkembangan hujan dan tinggi muka air.
  • Siapkan tas siaga: isi dengan dokumen penting, obat, charger, dan kebutuhan dasar jika sewaktu-waktu harus evakuasi cepat.

Informasi Terkait & Tips Mobilitas Harian

Bagi commuters yang pulang-pergi lewat Sudirman, Thamrin, Grogol, atau Mampang, cek selalu info lalu lintas ketika langit mulai gelap dan radar cuaca menunjukkan sel hujan tebal mengarah ke Jakarta. Hujan ekstrem di atas 200 mm per hari biasanya diikuti:

  • Penutupan sementara beberapa ruas jalan yang tergenang.
  • Perlambatan perjalanan Transjakarta dan KRL di segmen tertentu.
  • Kemacetan di akses tol masuk-keluar kota akibat antrean kendaraan menghindari genangan.

Usahakan hindari berkendara di tengah hujan paling lebat. Jika memungkinkan, tunda 30–60 menit di kantor atau tempat aman sambil menunggu debit air turun dan saluran mulai bekerja. Biasanya, jika drainase masih cukup terbuka dan tidak tersumbat parah, genangan bisa surut dalam beberapa jam setelah hujan berhenti.

Warga Jakarta juga bisa aktif melaporkan genangan dan sumbatan saluran lewat kanal resmi pengaduan Pemprov DKI agar penanganan lebih cepat. Semakin cepat titik mampet terdeteksi, makin besar peluang air bisa mengalir sebelum volume hujan menyentuh level kritis di atas 200 mm per hari.

Kesimpulannya, dengan drainase Jakarta terbatas seperti kondisi sekarang, hujan ekstrem di atas 200 mm sehari hampir pasti memicu banjir di sejumlah titik. Sambil menunggu proyek besar tuntas, kombinasi antisipasi pemerintah dan kewaspadaan warga jadi kunci agar aktivitas Anak Jakarta tetap bisa jalan, meski langit lagi “tumpah” di atas kota.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %