Lalu lintas padat dengan nuansa senja oranye menggambarkan klaim macet di Jakarta sudah turun
Lalu lintas padat dengan nuansa senja oranye menggambarkan klaim macet di Jakarta sudah turun
0 0
Read Time:4 Minute, 55 Second

jkt.infoMacet di Jakarta sudah turun jadi pernyataan yang kembali memantik diskusi warganet setelah beredar sebuah video pendek Pramono yang menyebut kemacetan di ibu kota tetap ada, tapi intensitasnya menurun. Pernyataan ini menyoroti kondisi lalu lintas Jakarta hari-hari ini: kapan diucapkan, dalam konteks apa, dan seberapa relevan dengan realita yang dirasakan para commuters.

Dalam video berdurasi sekitar 20 detik yang beredar di media sosial, Pramono menegaskan bahwa kemacetan adalah sesuatu yang “pasti ada” di Jakarta sebagai kota besar dengan jutaan pergerakan setiap hari. Namun, ia mengklaim tingkat kemacetan sudah menurun dibanding beberapa tahun lalu. Tanpa menyebut angka detail dalam potongan video tersebut, pernyataan ini langsung memicu pro-kontra, terutama dari pekerja kantoran yang masih merasakan padatnya ruas-ruas utama seperti Sudirman, Gatot Subroto, hingga Kuningan.

Banyak Anak Jakarta yang sehari-hari bergantung pada mobil pribadi, ojek online, dan transportasi umum menanggapi video itu dengan membandingkan pengalaman mereka di lapangan. Di satu sisi, ada yang mengakui beberapa koridor memang terasa lebih lancar di jam tertentu. Di sisi lain, ada juga yang merasa kemacetan hanya bergeser jam dan titiknya, bukan benar-benar hilang.

Baca Juga: Update Lalu Lintas Pagi Hari di Jakarta

Macet di Jakarta Sudah Turun: Klaim vs Realita di Lapangan

Warga Jakarta tahu betul: kemacetan di ibu kota bukan hanya soal panjang antrean kendaraan, tapi juga soal waktu tempuh, kepastian perjalanan, dan stres di jalan. Klaim macet di Jakarta sudah turun bisa saja benar jika dilihat dari indikator tertentu, misalnya indeks kemacetan tahunan atau durasi rata-rata perjalanan. Namun, yang dirasakan di setir atau di jok motor tetap jadi barometer utama bagi warga.

Beberapa faktor yang sering disebut sebagai penyebab perbaikan relatif kondisi lalu lintas di Jakarta antara lain:

  • Pembangunan dan pengoperasian MRT, LRT, dan perluasan koridor Transjakarta yang memberi alternatif mobilitas.
  • Pemberlakuan ganjil-genap di sejumlah ruas utama untuk menekan volume kendaraan pribadi.
  • Penataan ulang beberapa simpang dan flyover/underpass baru yang mengurai bottleneck lama.
  • Perubahan pola kerja pasca-pandemi, dengan sebagian perusahaan masih menerapkan hybrid working.

Namun, commuters juga mengeluhkan beberapa hal yang membuat mereka merasa macet belum benar-benar reda:

  • Kepadatan parah di sekitar pintu tol dan perempatan besar saat jam berangkat dan pulang kantor.
  • Parkir liar dan pedagang di bahu jalan yang mempersempit ruas, terutama di kawasan permukiman padat dan pasar.
  • Pengerjaan proyek infrastruktur baru yang membuat jalur menyempit di beberapa titik strategis.

“Macet di Jakarta pasti ada, tapi sudah turun” — pernyataan Pramono di video pendek 20 detik ini menggarisbawahi fakta bahwa kemacetan di kota megapolitan mungkin tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, hanya dikelola dan ditekan tingkat keparahannya.

Konteks Kebijakan dan Pola Mobilitas Warga Jakarta

Untuk memahami pernyataan bahwa macet di Jakarta sudah turun, Anak Jakarta perlu melihatnya dalam konteks kebijakan mobilitas yang berjalan beberapa tahun terakhir. Jakarta sedang bergerak menuju kota yang lebih bertumpu pada transportasi publik dan mobilitas terintegrasi. Proyek MRT fase-fase baru, LRT lintas kota, hingga rencana jalur pejalan kaki dan pesepeda yang lebih manusiawi jadi bagian dari puzzle besar ini.

Sejumlah laporan transportasi global dalam beberapa tahun terakhir sempat menunjukkan penurunan relatif tingkat kemacetan Jakarta dibanding era sebelum ada MRT dan pembenahan besar-besaran transportasi umum. Namun, penting diingat bahwa “turun” tidak berarti “hilang”. Warga masih butuh waktu ekstra jika harus melintasi koridor-koridor sibuk seperti:

  • Jalan Gatot Subroto (koridor perkantoran, akses tol dalam kota)
  • Jalan HR Rasuna Said (segitiga emas Kuningan)
  • Jalan MH Thamrin – Jenderal Sudirman saat jam sibuk
  • Kawasan Kelapa Gading, Puri, dan TB Simatupang di jam pulang kantor

Di tengah kondisi seperti ini, peralihan ke transportasi umum makin terasa masuk akal buat banyak Sobat jkt.info. Pengguna MRT dan KRL, misalnya, sudah terbiasa memadukan perjalanan dengan ojek online untuk first mile dan last mile. Meski kadang padat, mereka terhindar dari tugas menyetir sendiri berjam-jam di tengah macet.

Baca Juga: Rute Transportasi Umum Favorit Karyawan Jakarta

Respons Warga Jakarta: Antara Optimisme dan Skeptis

Video pendek Pramono ini cepat menyebar karena menyentuh isu sehari-hari. Di kolom komentar media sosial, respons warga terbagi:

  • Kelompok optimistis yang melihat ada perubahan positif, misalnya waktu tempuh yang dulu 2 jam kini bisa 1–1,5 jam di rute tertentu.
  • Kelompok skeptis yang menilai klaim perbaikan belum terasa di kantong-kantong kemacetan langganan seperti Lenteng Agung, Cibubur, atau kawasan penyangga Jabodetabek yang bergantung pada tol.
  • Kelompok adaptif yang tidak terlalu memperdebatkan klaim, tapi fokus mencari cara paling efisien untuk mengakali macet: berangkat lebih pagi, kerja hybrid, atau full naik transport umum.

Buat banyak pekerja rantau yang tinggal di Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor, kemacetan bukan hanya fenomena Jakarta, tapi lintas-kota Jabodetabek. Seringkali, justru titik macet terparah mereka alami di akses tol, pintu tol, dan pertemuan arus kendaraan dari berbagai kota penyangga.

Tips Praktis Ngakalin Macet Buat Commuters

Apapun klaim resmi soal macet di Jakarta sudah turun, buat Sobat jkt.info yang tiap hari bolak-balik rumah-kantor, strategi di jalan tetap krusial. Beberapa langkah praktis yang bisa dicoba:

  • Cek real-time traffic sebelum berangkat lewat peta digital dan akun resmi informasi lalu lintas.
  • Coba kombinasi moda: misalnya naik motor/ojol ke stasiun, lanjut KRL atau MRT, dan jalan kaki pendek di akhir.
  • Eksperimen jam berangkat: selisih 20–30 menit bisa mengubah dramatis situasi di jalan.
  • Siapkan rute cadangan jika rute utama terpantau merah total, terutama saat hujan deras atau ada kecelakaan.
  • Manfaatkan opsi kerja fleksibel jika kantor mengizinkan, misalnya masuk lebih pagi dan pulang sebelum puncak macet.

Tanpa reformasi transportasi publik yang konsisten dan pengendalian kendaraan pribadi yang serius, kemacetan di Jakarta kemungkinan besar akan tetap “pasti ada” seperti kata Pramono. Namun, dengan data yang transparan dan kebijakan yang berpihak pada mobilitas publik, wajar jika warga menuntut bukan cuma klaim bahwa macet sudah turun, tapi bukti nyata di waktu tempuh harian mereka.

Buat Anak Jakarta, yang paling penting adalah bagaimana perjalanan bisa lebih pasti, lebih manusiawi, dan tidak menghabiskan separuh hidup di jalan. jkt.info akan terus memantau dan merangkum perkembangan kebijakan transportasi dan kondisi lalu lintas Jakarta, supaya kamu selalu punya bahan pertimbangan sebelum berangkat.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan