jkt.info – Pemprov DKI matikan lampu serentak 60 menit pada 19 September mendatang di berbagai titik Jakarta sebagai bagian kampanye hemat energi dan aksi simbolis isu lingkungan. Kebijakan ini akan berlangsung selama satu jam pada malam hari dan melibatkan gedung perkantoran, fasilitas publik, hingga beberapa ruang terbuka kota yang menjadi ikon ibu kota.
Warga Jakarta, khususnya para commuters dan penghuni gedung tinggi di pusat bisnis seperti Sudirman, Thamrin, Kuningan, hingga kawasan pemerintah di Medan Merdeka, diimbau untuk ikut berpartisipasi dengan mematikan lampu yang tidak esensial selama periode itu.
Jakarta Gelap Selama 60 Menit, Ada Apa di Baliknya?
Menurut informasi yang dihimpun, gerakan Pemprov DKI matikan lampu serentak 60 menit ini dijadwalkan pada 19 September selama 1 jam pada malam hari, sekitar pukul yang akan diumumkan resmi mendekati hari H. Targetnya adalah lampu-lampu dekoratif, lampu gedung yang tidak vital, dan penerangan non-esensial di ruang publik.
Langkah ini dirancang sebagai momentum pengingat bahwa Jakarta adalah salah satu kota dengan konsumsi listrik tertinggi di Indonesia. Dengan mematikan lampu selama 60 menit, Pemprov ingin mengajak warga merasakan langsung bagaimana penghematan kecil kalau dilakukan serentak bisa berdampak besar, sekaligus mengurangi emisi karbon, walau bersifat simbolis.
Gerakan semacam ini sebelumnya juga pernah dilakukan di beberapa kota besar dunia, biasanya dikaitkan dengan kampanye lingkungan global. Jakarta mencoba mengadaptasi semangat yang sama dengan konteks lokal: kota yang padat, penuh gedung tinggi, dan 24 jam tidak pernah benar-benar tidur.
Baca Juga: Update Lalu Lintas Malam Akhir Pekan di Jakarta
Area yang Berpotensi Terdampak Pemadaman Lampu
Anak Jakarta yang malam-malamnya sering nongkrong atau lembur di kantor perlu siap-siap. Walau belum ada daftar resmi rinci, pola kebijakan seperti ini biasanya menyentuh beberapa kategori area:
- Kawasan perkantoran pusat bisnis (Sudirman, Thamrin, Kuningan, Gatot Subroto).
- Gedung-gedung pemerintahan di sekitar Medan Merdeka dan sekitarnya.
- Bangunan ikonik dan landmark kota yang biasa disorot lampu dekoratif.
- Beberapa taman kota atau ruang terbuka yang memiliki pencahayaan artistik.
Untuk penerangan jalan utama dan fasilitas vital, Pemprov DKI biasanya tetap mengedepankan aspek keamanan. Jadi, lampu yang benar-benar dibutuhkan untuk keselamatan lalu lintas dan pejalan kaki umumnya tidak akan dimatikan penuh, melainkan dikurangi intensitasnya atau hanya sebagian titik yang ikut gelap.
“Gerakan ini bukan soal bikin Jakarta gelap, tapi soal bikin kita semua lebih sadar energi. Kita ingin ajak warga berpikir, seberapa banyak listrik yang bisa dihemat kalau semua kompak,” demikian garis besar pesan kampanye yang mengiringi kebijakan Pemprov DKI matikan lampu serentak 60 menit pada 19 September.
Dampak ke Warga: Dari Commuter Sampai Pelaku Usaha
Buat para commuters yang biasanya masih di jalan saat jam pulang kantor, efek yang paling terasa kemungkinan adalah perubahan atmosfer kota. Gedung-gedung yang biasa menyala terang bisa jadi tampak lebih redup, langit Jakarta sedikit lebih gelap, dan cahaya lampu kendaraan bisa terasa lebih dominan.
Pelaku usaha, terutama yang bergerak di sektor kuliner, retail, dan hiburan malam, juga perlu mengantisipasi. Beberapa hal yang patut diperhatikan:
- Menyiapkan sistem pencahayaan darurat atau lampu hemat energi untuk area yang tetap harus beroperasi.
- Memberi informasi ke pelanggan bahwa akan ada pengurangan lampu selama satu jam.
- Memastikan perangkat elektronik penting (kasir, server mini, dan lain-lain) tetap aman beroperasi.
Bagi warga yang tinggal di apartemen, rumah susun, atau perumahan yang dikelola pengembang, koordinasi biasanya dilakukan lewat manajemen gedung atau RT/RW. Informasi teknis seperti area mana yang akan diredupkan dan mana yang tetap menyala perlu dicek sejak awal agar tidak kaget saat 19 September malam tiba.
Cara Ikut Berpartisipasi dari Rumah atau Kantor
Mau ikut dukung Pemprov DKI matikan lampu serentak 60 menit tapi bingung mulai dari mana? Berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan Anak Jakarta dari skala terkecil:
- Matikan lampu yang tidak perlu (koridor, ruang tamu kosong, kamar yang tidak dipakai).
- Cabut charger dan peralatan elektronik yang sedang tidak digunakan.
- Kurangi pemakaian AC selama periode satu jam atau naikkan suhu 1-2 derajat.
- Gunakan penerangan minimal, misalnya satu lampu utama saja di rumah atau kantor kecil.
Dari sisi gaya hidup, momen ini bisa dijadikan kesempatan rehat sejenak dari layar gawai, menikmati suasana kota yang sedikit lebih redup, atau ngobrol santai bersama keluarga, tetangga, atau rekan sekantor. Selain hemat energi, hubungan sosial juga ikut “nyala”.
Baca Juga: Tips Hemat Listrik untuk Warga Apartemen Jakarta
Keamanan dan Transportasi Saat Lampu Diredupkan
Satu hal yang wajar jadi kekhawatiran adalah urusan keamanan. Dalam kebijakan seperti ini, Pemprov DKI biasanya berkoordinasi dengan kepolisian, dinas perhubungan, dan pengelola jalan agar penerangan jalan umum yang vital tidak dipadamkan total.
Beberapa tips buat kamu yang tetap harus mobile saat jam pemadaman lampu:
- Pastikan lampu kendaraan (motor/mobil) dalam kondisi baik.
- Hindari melaju terlalu kencang di ruas jalan yang pencahayaannya berkurang.
- Untuk pejalan kaki, pilih jalur yang tetap ramai dan cukup terang.
- Kalau naik transportasi umum, cek info resmi dari operator (MRT, LRT, Transjakarta, KRL) terkait operasional dan kondisi halte/stasiun.
Sejauh ini, kebijakan Pemprov DKI matikan lampu serentak 60 menit pada 19 September lebih menekankan aspek simbolis dan kampanye publik, bukan pemadaman listrik menyeluruh. Artinya, listrik tetap menyala, hanya lampu-lampu tertentu yang diminta untuk dimatikan sukarela.
Momentum Refleksi untuk Kota yang Tak Pernah Tidur
Jakarta dikenal sebagai kota yang nyaris tak pernah gelap. Dari skyscraper di SCBD sampai deretan ruko di pinggiran kota, lampu menyala sepanjang malam. Gerakan ini bisa jadi jeda singkat untuk melihat Jakarta dalam wajah yang berbeda: sedikit lebih gelap, sedikit lebih tenang.
Warga Jakarta bisa memanfaatkan momen 60 menit ini sebagai refleksi tentang bagaimana kebiasaan kecil, seperti mematikan lampu saat tidak digunakan, menutup tirai untuk menjaga suhu ruangan, atau memilih perangkat elektronik yang lebih hemat energi, bisa menekan tagihan listrik sekaligus dampak lingkungan.
Pada akhirnya, keberhasilan program ini bukan cuma soal seberapa banyak lampu yang mati, tapi seberapa lama kebiasaan hemat energi bisa bertahan setelah lampu-lampu itu dinyalakan lagi.
Commuters dan Anak Jakarta, catat tanggalnya: 19 September. Sesuaikan jadwal, siapkan diri, dan ambil peran kecilmu. Ketika Pemprov DKI matikan lampu serentak 60 menit, kota ini sedang mengajak kita semua untuk berpikir ulang soal cara menggunakan energi di Jakarta yang super sibuk ini.
