jkt.info – Elpala SMA 68 Jakarta genap empat dekade mewarnai dunia penjelajahan dan petualangan dari jantung kota, menjelajah dari gang-gang Jakarta hingga menjejak di atap-atap dunia lewat ekspedisi ke gunung-gunung tinggi Nusantara dan mancanegara. Komunitas pencinta alam legendaris dari sekolah negeri di Tebet ini terus melahirkan generasi Anak Jakarta yang tangguh, disiplin, dan peduli lingkungan.
Buat Sobat jkt.info yang sering lewat kawasan Tebet atau pernah sekolah di SMA Negeri 68 Jakarta, nama Elpala mungkin sudah tidak asing lagi. Dari era 80-an, 90-an, sampai sekarang, Elpala dikenal sebagai salah satu ekstrakurikuler pencinta alam paling aktif di Jakarta. Empat dekade berlalu, jaringan alumninya sudah tersebar di berbagai bidang: profesional, pendaki gunung, aktivis lingkungan, hingga pelatih kegiatan outdoor.
Empat Dekade Perjalanan Elpala SMA 68 Jakarta
Didirikan di era awal 1980-an, Elpala SMA 68 Jakarta lahir dari kegelisahan sekelompok siswa yang ingin keluar dari rutinitas kelas dan mengenal alam lebih dekat. Waktu itu, Jakarta sudah mulai padat, polusi meningkat, dan kebutuhan ruang hijau sangat terasa. Pencinta alam menjadi “pelarian sehat” bagi banyak siswa yang haus petualangan, tapi tetap ingin berkegiatan positif dan terarah.
Selama empat dekade, Elpala konsisten mengadakan:
- Pendakian gunung-gunung utama di Jawa dan Sumatra
- Pelatihan dasar pencinta alam untuk anggota baru
- Kegiatan konservasi seperti penanaman pohon dan bersih-bersih jalur pendakian
- Camping, navigasi darat, dan survival basic untuk pelajar
Dari catatan berbagai publikasi dan testimoni alumni, Elpala bukan sekadar ekskul naik gunung. Di sana, Anak Jakarta belajar manajemen risiko, kerja tim, empati sosial, sampai kepemimpinan. Banyak yang mengaku, mental “tahan banting” mereka di dunia kerja terbentuk justru dari tidur di tenda sobek, kehujanan di punggungan gunung, atau tersesat sebentar di jalur pendakian.
Baca Juga: Update Rute TransJakarta ke Kawasan Tebet
Menjejak Atap Dunia: Dari Jakarta ke Puncak-Puncak Tinggi
Istilah “menjejak atap dunia” yang disematkan ke Elpala SMA 68 Jakarta menggambarkan bagaimana komunitas kecil di sekolah negeri ibu kota bisa bertransformasi jadi jaringan petualang yang serius. Meski berbasis di Jakarta, banyak alumninya yang kemudian melanjutkan pendakian hingga ke gunung-gunung tinggi di luar negeri.
Mulai dari puncak-puncak ikonik Indonesia seperti:
- Gunung Semeru — Jawa Timur
- Gunung Rinjani — Nusa Tenggara Barat
- Gunung Kerinci — Sumatra
- Gunung Latimojong — Sulawesi
Sampai ke puncak-puncak yang sering dijuluki “atap dunia” karena ketinggiannya dan tingkat kesulitannya. Beberapa alumni Elpala tercatat terlibat dalam ekspedisi ke kawasan Himalaya dan pegunungan Asia lainnya, membawa semangat Anak Jakarta ke ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut.
“Dulu kami cuma anak sekolah negeri di Tebet yang hobi naik gunung. Nggak kebayang ada yang akhirnya bisa ikut ekspedisi ke pegunungan tinggi di luar negeri. Tapi mentalnya memang ditempa di Elpala,” ujar salah satu alumni Elpala angkatan 90-an yang kini aktif di kegiatan outdoor profesional.
Bagi generasi terbaru, kisah sukses para alumni ini jadi bahan bakar semangat: bahwa anak sekolah di tengah hiruk pikuk Jakarta pun bisa merintis jalan sampai ke level dunia, selama tekun dan terarah.
Ruang Tumbuh Anak Jakarta di Tengah Hutan Beton
Commuters yang tiap hari berkutat di Sudirman, Kuningan, atau Thamrin mungkin lupa bahwa Jakarta bukan cuma soal gedung kaca dan macet. Komunitas seperti Elpala SMA 68 Jakarta jadi pengingat bahwa di sela-sela gedung dan flyover, masih ada ruang untuk tumbuh lewat aktivitas yang dekat dengan alam.
Buat pelajar Jakarta, ikut pencinta alam menawarkan hal yang agak langka di kota:
- Waktu jauh dari gawai dan layar
- Kesempatan menghirup udara segar di luar kota
- Belajar langsung soal ekosistem, konservasi, dan perubahan iklim
- Melek keselamatan di alam bebas (safety first, bukan cuma gaya)
Elpala juga sering dipandang sebagai “sekolah kedua”. Senior mengajarkan ke junior bukan cuma soal cara mendirikan tenda, tapi juga etika — dari menghormati porter lokal, tidak merusak jalur pendakian, sampai bertanggung jawab terhadap sampah.
Baca Juga: Ruang Terbuka Hijau Favorit Warga Jakarta
Konteks Urban: Tantangan Komunitas Pencinta Alam di Jakarta
Di tengah padatnya kurikulum, tekanan akademik, dan distraksi media sosial, mempertahankan komunitas pencinta alam di sekolah negeri Jakarta bukan perkara mudah. Namun Elpala SMA 68 Jakarta terbukti bisa bertahan selama empat dekade. Ada beberapa tantangan khas kota besar yang mereka hadapi:
- Perizinan dan regulasi — Kegiatan luar kota harus mengikuti aturan ketat sekolah dan orang tua.
- Biaya logistik — Berangkat dari Jakarta ke gunung-gunung utama butuh biaya transportasi yang tidak kecil.
- Perubahan gaya hidup — Generasi baru lebih akrab dengan gadget, sehingga ajakan “naik gunung” perlu dikemas menarik dan aman.
- Keterbatasan ruang latihan — Di Jakarta minim area latihan outdoor alami, sehingga banyak latihan yang dilakukan di sekolah atau taman kota.
Meski begitu, Elpala berhasil mengadaptasi diri. Latihan fisik bisa dilakukan di stadion atau taman kota, materi teori dibawa ke ruang kelas, dan dokumentasi pendakian diolah jadi konten edukatif. Identitas sebagai komunitas urban-outdoor ini yang kemudian membuat Elpala punya karakter khas dibanding komunitas pencinta alam di daerah lain.
“Kami ini anak kota yang belajar mencintai alam. Justru karena tiap hari ketemu beton dan polusi, gunung jadi tempat kami reset mental,” ujar salah satu pengurus Elpala generasi baru.
Warisan Empat Dekade untuk Generasi Berikutnya
Empat dekade perjalanan Elpala SMA 68 Jakarta bukan cuma deretan dokumentasi foto di puncak gunung atau piagam kegiatan. Yang lebih penting adalah warisan nilai:
- Disiplin — Kegiatan di alam menuntut ketepatan waktu, kesiapan fisik, dan mental.
- Kekompakan — Di gunung, keselamatan ditentukan oleh kerja tim, bukan ego masing-masing.
- Empati — Bertemu warga desa, porter, dan komunitas lokal membuka perspektif baru buat Anak Jakarta.
- Cinta lingkungan — Sadar bahwa apa yang terjadi di hutan dan gunung akan berdampak ke kota, termasuk Jakarta.
Bagi Warga Jakarta yang punya anak usia SMA atau calon siswa, keberadaan komunitas seperti Elpala bisa jadi pertimbangan penting. Di tengah dunia yang serba digital, pengalaman lapangan di alam terbuka memberikan keseimbangan yang sulit digantikan hanya dengan kelas online atau buku pelajaran.
Informasi Terkait: Cara Dukung Komunitas Pencinta Alam Sekolah
Untuk Anak Jakarta, orang tua, maupun alumni yang ingin terlibat, ada beberapa langkah praktis untuk mendukung Elpala SMA 68 Jakarta dan komunitas sejenis di sekolah lain:
- Dukungan moral dan izin kegiatan — Orang tua bisa memberi kepercayaan dengan memastikan kegiatan resmi dan berizin.
- Dukungan perlengkapan — Donasi alat bekas layak pakai seperti carrier, sleeping bag, atau sepatu gunung bisa sangat membantu anggota baru.
- Dukungan jaringan — Alumni dan profesional outdoor bisa membantu pelatihan, sharing pengalaman, atau membuka akses kolaborasi.
- Dukungan informasi — Membantu menyebarkan informasi kegiatan positif mereka agar makin banyak Anak Jakarta yang tertarik.
Empat dekade sudah Elpala SMA 68 Jakarta berdiri, dan jejaknya kini jelas terasa: dari koridor sekolah di Tebet hingga punggung gunung di berbagai penjuru. Di tengah Jakarta yang terus berlari, komunitas seperti ini mengingatkan kita bahwa kota yang sehat butuh warganya yang kuat, peduli, dan berani menjelajah — dari aspal ibu kota sampai ke atap dunia.
Buat Sobat jkt.info yang lagi cari aktivitas positif untuk adik, anak, atau keponakan yang sekolah di Jakarta, jangan lupa lirik ekskul pencinta alam di sekolah masing-masing. Siapa tahu, dari halaman sekolah sederhana di tengah Jakarta, lahir lagi generasi baru yang siap menjejak atap dunia.
