jkt.info – Menghalang Jakarta karam bukan lagi sekadar jargon musim hujan. Di tengah ancaman banjir tahunan, penurunan tanah, dan naiknya muka air laut, pemerintah DKI bersama pemerintah pusat mulai mematangkan strategi baru pengendalian banjir yang menyasar kawasan padat dari Jakarta Utara sampai Jakarta Timur. Langkah ini menyangkut penataan ulang drainase, normalisasi sungai, penataan permukiman di bantaran kali, sampai pembangunan infrastruktur hijau yang lebih ramah lingkungan.
Warga Jakarta, terutama yang tinggal di kawasan langganan banjir seperti Kelapa Gading, Pluit, Sunter, Cawang, dan Kampung Melayu, kembali jadi sorotan. Bagaimana caranya supaya kota ini tidak “tenggelam pelan-pelan”? Apa saja program konkret yang disiapkan, dan kapan kira-kira dampaknya bisa dirasakan commuters dan anak Jakarta yang tiap hari melintas Sudirman–Thamrin sampai koridor timur dan barat?
Menghalang Jakarta Karam di Tengah Ancaman Banjir dan Rob
Secara geografis, Jakarta berada di dataran rendah dengan 13 sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta. Kombinasi curah hujan tinggi, alih fungsi lahan hijau jadi beton, serta penurunan tanah hingga belasan sentimeter per tahun di beberapa titik membuat ancaman banjir dan rob makin serius. Istilah menghalang Jakarta karam kini merangkum dua ancaman besar: banjir kiriman dari hulu dan air laut yang naik dari utara.
Otoritas terkait menggarisbawahi tiga fokus besar: penguatan infrastruktur fisik (tanggul, polder, pintu air, pompa), penataan tata ruang dan permukiman, serta perubahan perilaku warga, mulai dari pengelolaan sampah sampai pengurangan penggunaan air tanah. Tanpa kombinasi ketiganya, berbagai proyek raksasa tetap berisiko tidak efektif.
Baca Juga: Update Banjir Jakarta & Titik Rawan Genangan
Strategi Utama: Dari Sungai, Drainase, hingga Pesisir Utara
Sobat jkt.info, garis besar strategi untuk menghalang Jakarta karam bisa dibagi ke beberapa klaster besar yang langsung berkaitan dengan kehidupan harian warga:
1. Normalisasi dan Naturalisasi Sungai
Jakarta selama ini mengandalkan normalisasi sungai seperti Ciliwung, Pesanggrahan, Angke, hingga Sunter untuk memperbesar kapasitas tampung air. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan ini dilengkapi dengan konsep “naturalisasi” yang menambah ruang terbuka hijau, jalur pedestrian, dan area resapan di sepanjang bantaran.
Bagi warga yang tinggal di bantaran kali, ini berarti kemungkinan relokasi ke rumah susun atau permukiman yang lebih tertata. Di sisi lain, warga kota mendapat manfaat jangka panjang berupa sungai yang lebih bersih, jalur hijau, dan risiko banjir yang berkurang.
2. Peremajaan Drainase Perkotaan
Banjir di Jakarta tidak selalu karena sungai meluap; sering kali saluran mikro di lingkungan yang tersumbat sampah atau tidak terhubung baik ke saluran utama membuat air menggenang selama berjam-jam. Untuk itu, Pemprov DKI menggenjot pengerukan got, pelebaran saluran, serta interkoneksi drainase antar kawasan.
Di kawasan bisnis seperti Sudirman, Kuningan, Gatot Subroto, hingga TB Simatupang, pengembang dan pengelola gedung juga didorong menyediakan kolam retensi dan sumur resapan. Targetnya, saat hujan deras di jam pulang kantor, air bisa tertahan dulu di area gedung sebelum masuk ke sistem kota.
3. Perlindungan Pesisir dan Tanggul Pantai
Jakarta Utara adalah garis depan untuk menghalang Jakarta karam akibat rob. Pembangunan dan penguatan tanggul pantai, tanggul darat, hingga sistem polder dengan pompa raksasa menjadi kunci agar kawasan seperti Muara Baru, Pluit, Penjaringan, sampai Cilincing tidak lagi terendam air laut saat pasang tinggi.
Selain itu, rencana pengembangan pesisir juga diarahkan lewat penataan kawasan hunian, pelabuhan, dan ruang publik di tepi laut agar lebih adaptif terhadap perubahan iklim, termasuk kemungkinan peninggian jalan dan ruang-ruang publik.
Peran Ruang Hijau dan Infrastruktur Biru
Menghalang Jakarta karam tidak bisa mengandalkan beton dan pompa saja. Infrastruktur hijau dan biru—seperti taman kota, hutan kota, waduk, embung, dan danau—jadi bagian penting strategi baru. Fungsi mereka jelas: menahan, menyerap, dan memperlambat aliran air hujan sebelum masuk ke sungai dan laut.
Beberapa kawasan yang sudah mulai dirasakan manfaatnya oleh warga antara lain revitalisasi Waduk Pluit, Waduk Ria Rio, dan Danau Sunter. Selain sebagai ruang rekreasi, area ini berperan sebagai kantong air saat hujan deras melanda Jakarta Utara dan Timur.
“Kalau dulu kita hanya bicara menguras dan membuang air secepat-cepatnya ke laut, sekarang kita bicara menahan, menyimpan, dan mengelola air secara lebih cerdas. Ini yang membedakan strategi baru dalam menghalang Jakarta karam,” ujar seorang perencana tata kota yang terlibat dalam penyusunan kebijakan pengendalian banjir Jakarta.
Pentingnya Ubah Perilaku: Sampah, Air Tanah, dan Tata Ruang
Anak Jakarta mungkin sudah lelah mendengar slogan “jangan buang sampah sembarangan”. Namun kenyataannya, setiap kali hujan besar dan banjir datang, tumpukan sampah rumah tangga, plastik sekali pakai, hingga limbah usaha kecil kembali terbawa arus di pintu-pintu air dan muara sungai. Ini membuat sistem pengendalian banjir bekerja lebih berat dan sering macet.
Selain itu, kebiasaan mengandalkan air tanah secara masif, terutama untuk gedung bertingkat dan kawasan komersial, mempercepat penurunan permukaan tanah, khususnya di Jakarta Utara dan sebagian Jakarta Barat. Ketika tanah turun dan permukaan air laut naik, risiko “Jakarta karam” bukan lagi metafora.
Upaya mengurangi ketergantungan pada air tanah—melalui perluasan jaringan air perpipaan—serta penegakan tata ruang yang konsisten (tidak lagi membiarkan permukiman tumbuh di bantaran sungai dan sempadan waduk) menjadi prasyarat penting.
Baca Juga: Proyek Bendungan dan Tanggul untuk Lindungi Jakarta
Informasi Terkait: Apa yang Bisa Dilakukan Warga?
Buat commuters dan sobat jkt.info yang sehari-hari bergantung pada kelancaran jalanan dan transportasi umum, ada beberapa hal praktis yang bisa dilakukan untuk ikut menghalang Jakarta karam sekaligus mengurangi dampak banjir ke rutinitas:
- Ikut jaga saluran lingkungan: Pastikan got depan rumah atau kantor tidak tertutup sampah dan sedimen. Laporkan ke kelurahan bila ada hambatan besar.
- Kurangi sampah sekali pakai: Bawa botol minum dan tas belanja sendiri, kurangi plastik, dan pisahkan sampah agar lebih mudah dikelola.
- Manfaatkan info cuaca dan genangan: Sebelum berangkat atau pulang, cek prakiraan hujan, status pintu air, dan laporan genangan di area yang akan dilalui.
- Dukung program relokasi dan penataan: Jika ada penataan bantaran sungai dan waduk di kawasan kamu, pahami tujuannya dan ikuti proses musyawarah yang ada. Ini bagian dari strategi jangka panjang.
- Gunakan transportasi publik saat cuaca ekstrem: Di banyak kasus, akses MRT, LRT, dan KRL lebih cepat pulih setelah banjir dibandingkan lalu lintas kendaraan pribadi.
Menghalang Jakarta karam adalah kerja maraton, bukan sprint. Proyek tanggul, normalisasi sungai, hingga pembangunan infrastruktur hijau membutuhkan waktu, anggaran besar, dan koordinasi lintas lembaga. Tapi tanpa dukungan perilaku warga yang lebih peduli, semua upaya itu akan sulit maksimal.
Warga Jakarta dihimbau untuk terus memantau informasi resmi dari Pemprov DKI, BPBD, dan BMKG, terutama saat memasuki puncak musim hujan. Siapkan rute alternatif, simpan nomor darurat, dan pastikan perangkat elektronik tetap terisi daya saat ada potensi banjir. Dengan kombinasi kebijakan yang tepat dan partisipasi aktif anak kota, harapan untuk benar-benar menghalang Jakarta karam bukan hal yang mustahil.
