jkt.info – Komunitas mobil listrik Jakarta Lampung menggelar turing akhir pekan dari Ibu Kota menuju Sumatra, untuk menguji langsung ketersediaan SPKLU dan menghitung biaya perjalanan antarkota dengan kendaraan listrik.
Rombongan berangkat dari Jakarta menuju Lampung lewat Tol Trans Jawa–Sumatra, singgah di beberapa Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di rest area, lalu kembali lagi ke Jabodetabek. Misi mereka simpel tapi penting: membuktikan apakah mobil listrik sudah cukup nyaman dipakai road trip jarak jauh oleh warga urban Jakarta yang doyan turing.
Dalam perjalanan ini, komunitas melakukan pencatatan detil: di mana saja SPKLU tersedia, berapa lama waktu pengisian, berapa biaya listrik per kilometer, sampai bagaimana pengalaman antri dan kualitas fasilitas rest area untuk pengguna EV (electric vehicle).
Baca Juga: Update Jalan Tol & Lalu Lintas Jabodetabek
Rute turing komunitas mobil listrik Jakarta-Lampung
Sobat jkt.info, rombongan berangkat pagi dari kawasan Jakarta Selatan, melintasi ruas tol dalam kota lalu masuk ke Tol Jakarta–Cikampek dan Tol Trans Jawa. Titik pengisian pertama dilakukan di salah satu rest area tol arah timur yang sudah dilengkapi SPKLU fast charging.
Setelah itu, mereka lanjut ke Pelabuhan Merak, menyeberang ke Bakauheni, lalu kembali menempuh Tol Trans Sumatra menuju kota-kota di Lampung. Di setiap segmen perjalanan, mereka sengaja memilih SPKLU dengan jenis dan daya berbeda – dari 25 kW hingga 100 kW – untuk mensimulasikan berbagai skenario penggunaan mobil listrik oleh pengguna harian asal Jakarta.
Secara total, jarak yang ditempuh dari Jakarta ke Lampung berkisar 250–300 km (tergantung titik start dan kota tujuan di Lampung), dengan tambahan jarak eksplorasi di sekitar kota untuk menguji skenario dalam kota dan pinggiran.
Uji langsung SPKLU: lokasi, kecepatan isi, dan biaya
Fokus utama turing ini adalah menguji langsung SPKLU yang tersebar di jalur utama Jakarta–Lampung. Beberapa hal yang diamati komunitas:
- Ketersediaan SPKLU di rest area tol: apakah mudah ditemukan dan apakah berfungsi normal.
- Daya pengisian: seberapa cepat baterai terisi, terutama di SPKLU fast charging.
- Skema pembayaran: kartu, aplikasi, atau QRIS, dan seberapa praktis untuk pengguna baru.
- Biaya per kWh: untuk menghitung berapa biaya perjalanan per kilometer.
Dari simulasi, untuk sebuah mobil listrik dengan konsumsi rata-rata 12–15 kWh per 100 km, bila tarif SPKLU di kisaran Rp2.400–Rp2.800 per kWh, maka biaya listrik per 100 km berada di rentang kurang lebih Rp30.000–Rp42.000. Bandingkan dengan mobil bensin di Jakarta yang bisa menghabiskan sekitar Rp90.000–Rp120.000 per 100 km (tergantung konsumsi dan harga BBM).
“Buat kami, turing ini bukan sekadar jalan-jalan. Kami ingin tahu apakah warga Jakarta benar-benar bisa mengandalkan mobil listrik untuk perjalanan jauh tanpa was-was kehabisan baterai,” ujar salah satu anggota komunitas yang ikut turing.
Pengalaman urban commuters Jakarta pakai mobil listrik jarak jauh
Buat commuters dan Anak Jakarta yang biasa pakai mobil listrik harian ke kantor, turing ini jadi semacam stres test: bagaimana rasanya keluar dari zona nyaman rute dalam kota, lalu bergantung penuh pada SPKLU di tol dan luar pulau.
Beberapa catatan pengalaman yang muncul:
- Perencanaan rute lebih penting: berbeda dengan mobil bensin yang bisa isi di hampir semua SPBU, pengguna mobil listrik harus cek dulu titik SPKLU di aplikasi sebelum berangkat.
- Waktu charging bisa disinkronkan dengan istirahat: pengisian 30–45 menit bisa dimanfaatkan untuk ke toilet, makan, atau salat di rest area.
- Kecemasan baterai berkurang setelah kenal pola: setelah satu-dua kali isi dan melihat jarak tempuh real di dashboard, rasa was-was SOC (state of charge) rendah mulai hilang.
- Suasana kabin lebih senyap: di jalur tol panjang menuju Lampung, kabin mobil listrik yang minim getaran dan suara mesin bikin perjalanan lebih rileks.
Namun, masih ada PR seperti jumlah SPKLU yang belum sebanyak SPBU, serta beberapa lokasi yang belum punya kanopi atau area tunggu yang nyaman untuk pengendara yang sedang men-charge malam hari.
Biaya perjalanan Jakarta-Lampung dengan mobil listrik vs bensin
Meski angka detail bisa beda-beda tergantung jenis mobil, gaya berkendara, dan tarif aktual SPKLU, gambaran kasarnya seperti ini:
- Mobil listrik: Jakarta–Lampung PP dengan jarak total sekitar 600–700 km bisa menghabiskan kurang lebih 80–105 kWh. Dengan tarif rata-rata, biaya listrik berada di rentang yang signifikan lebih murah dibanding BBM.
- Mobil bensin: dengan konsumsi 1:12–1:14, perjalanan sejenis bisa membutuhkan 50–55 liter BBM, dengan biaya yang jelas lebih tinggi, apalagi jika menggunakan BBM berkualitas tinggi yang disarankan untuk mobil modern di Jakarta.
Dari sisi rasa, komunitas menilai biaya pengisian di SPKLU untuk turing antarkota sudah cukup bersahabat, terutama bila dibandingkan dengan biaya harian parkir, tol, dan BBM yang biasa dihadapi warga Jakarta setiap hari.
“Kalau dihitung hematnya, mobil listrik ini kerasa banget buat yang jarak tempuhnya tinggi. Tantangannya tinggal memastikan jaringan SPKLU makin rapat di jalur utama dan kota tujuan,” tambah anggota komunitas lain.
Tips buat Anak Jakarta yang mau turing mobil listrik
Kalau Sobat jkt.info tertarik ikut jejak komunitas mobil listrik Jakarta Lampung, ini beberapa tips praktis yang bisa dicatat:
- Cek peta SPKLU lewat aplikasi resmi penyedia listrik atau platform aggregator sebelum berangkat.
- Berangkat dengan baterai penuh dari rumah atau SPKLU di dalam kota Jakarta untuk mengurangi jumlah stop di awal perjalanan.
- Atur kecepatan dan mode berkendara agar konsumsi energi lebih efisien, terutama di tol panjang.
- Siapkan metode pembayaran (aplikasi, saldo, kartu) yang dibutuhkan di SPKLU yang akan dipakai.
- Pilih rest area yang lengkap supaya waktu charging tidak terasa membosankan.
Yang tidak kalah penting, selalu pantau info lalu lintas dan cuaca, terutama di lintasan Jakarta–Merak dan Bakauheni–Lampung yang bisa padat di musim liburan.
Ke depan: turing EV jadi gaya baru warga Jakarta?
Turing yang digelar komunitas ini jadi semacam barometer kesiapan infrastruktur kendaraan listrik bagi warga Jabodetabek. Jika SPKLU makin merata, bukan tidak mungkin road trip mobil listrik Jakarta–Lampung, Jakarta–Bandung, hingga Jakarta–Semarang akan jadi hal biasa seperti halnya turing mobil bensin di era sebelumnya.
Buat Anak Jakarta yang sedang mempertimbangkan beralih ke mobil listrik, pengalaman komunitas ini bisa jadi referensi nyata: bukan hanya soal klaim brosur, tapi angka konsumsi, biaya, dan rasa pakai di lapangan.
Baca Juga: Kebijakan Kendaraan Ramah Lingkungan di DKI Jakarta
Untuk sekarang, kesimpulannya: perjalanan komunitas mobil listrik Jakarta Lampung menunjukkan bahwa turing antarkota sudah memungkinkan, asal rute direncanakan dengan matang dan pengguna familiar dengan ekosistem SPKLU di sepanjang jalur. Tinggal menunggu waktu sampai infrastrukturnya makin padat dan pengalaman road trip EV warga Jakarta jadi semakin praktis.
