Suasana pengukuhan DPW Gekrafs Jakarta dengan dominasi warna oranye, menandai dukungan pada penguatan ekonomi kreatif ibu kota
Suasana pengukuhan DPW Gekrafs Jakarta dengan dominasi warna oranye, menandai dukungan pada penguatan ekonomi kreatif ibu kota
0 0
Read Time:5 Minute, 31 Second

jkt.infoPengukuhan DPW Gekrafs Jakarta resmi digelar dan dihadiri Rano yang mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif di ibu kota. Momen ini jadi sinyal serius bahwa pelaku industri kreatif Jakarta, dari film, musik, kuliner hingga digital, bakal dapat dukungan lebih terarah untuk menjawab tantangan ekonomi kota yang terus bergerak 24/7.

Bertempat di salah satu venue bergaya urban di Jakarta, pengukuhan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Jakarta ini mempertemukan pelaku kreatif lintas subsektor, pejabat, hingga komunitas anak muda kota. Dalam acara tersebut, Rano menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas kreatif, dan dunia usaha agar ekonomi kreatif tidak cuma jadi jargon, tapi benar-benar terasa dampaknya bagi lapangan kerja dan kesejahteraan warga.

Rano: Ekonomi Kreatif Harus Jadi Tulang Punggung Baru

Sobat jkt.info, di tengah perubahan gaya hidup warga kota dan geliat digital, Rano menyoroti bahwa ekonomi kreatif Jakarta tidak boleh tertinggal. Menurutnya, Jakarta punya ekosistem lengkap: talenta anak muda, infrastruktur kota, akses teknologi, dan pasar yang besar. Kalau semua itu disatukan lewat wadah seperti Gekrafs, pertumbuhan ekonomi kreatif bisa jadi salah satu tulang punggung baru penggerak ekonomi ibu kota.

Dalam sambutannya, Rano menekankan tiga hal utama: penguatan kelembagaan Gekrafs Jakarta, pendampingan pelaku kreatif skala mikro dan kecil, serta perluasan akses pasar lewat event, platform digital, dan kolaborasi lintas sektor. Ia juga mengapresiasi kehadiran para pelaku UMKM kreatif yang selama ini menjadi ujung tombak ekonomi lingkungan di kampung-kampung kota, gang-gang kecil, hingga sentra kuliner malam hari.

“Jakarta punya energi kreatif yang tidak habis-habis. Tugas kita memastikan energi ini terkelola, tersalurkan, dan menghasilkan nilai ekonomi yang nyata. DPW Gekrafs Jakarta harus jadi rumah bersama pelaku kreatif, bukan sekadar organisasi simbolik,” ujar Rano dalam pengukuhan DPW Gekrafs Jakarta.

Warga Jakarta yang berkecimpung di dunia film, desain, musik, fotografi, arsitektur, fesyen, hingga konten digital diharapkan bisa melihat Gekrafs sebagai partner strategis untuk mengembangkan karya, bukan hanya sebagai forum seremonial.

Peran DPW Gekrafs Jakarta di Tengah Dinamika Kota

Di kota yang ritmenya secepat lalu lintas Sudirman di jam sibuk, penguatan DPW Gekrafs Jakarta diposisikan sebagai penghubung antara komunitas kreatif akar rumput dengan pengambil kebijakan. Anak Jakarta yang biasa bikin acara musik independen, pameran seni di ruang alternatif, sampai kreator konten yang syuting di sudut-sudut kota, diharapkan bisa punya saluran komunikasi yang lebih formal dan berkelanjutan.

Beberapa fokus kerja yang disorot dalam pengukuhan DPW Gekrafs Jakarta antara lain:

  • Pemetaan pelaku ekonomi kreatif di seluruh wilayah Jakarta, dari pusat kota sampai pinggiran seperti Cakung, Kalideres, dan Jagakarsa.
  • Pembentukan program pelatihan dan mentoring terkait bisnis, legalitas usaha, hak kekayaan intelektual (HKI), hingga literasi digital.
  • Dorongan kolaborasi dengan pemerintah provinsi dan kota/kabupaten penyangga Jabodetabek untuk event bersama dan integrasi pasar.
  • Pengembangan ruang kreatif, baik fisik maupun digital, untuk mendukung produksi dan promosi karya.

Langkah-langkah ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara pelaku kreatif yang sudah mapan dan mereka yang baru memulai, seperti komunitas mural di pinggir rel, studio musik rumahan di gang padat, hingga bisnis kuliner rumahan yang viral di media sosial.

Baca Juga: Update Kebijakan Ruang Kreatif Publik di Jakarta

Jakarta sebagai Laboratorium Ekonomi Kreatif

Commuters dan anak Jakarta paham, kota ini bukan cuma soal gedung tinggi dan macet. Di balik itu, ada kultur pop perkotaan: skena musik indie di Kemang, coffee shop penuh laptop di Senopati dan BSD, mural jalanan di sekitar Tebet, sampai pasar malam kuliner di Rawamangun. Semua itu adalah bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri.

Dengan adanya pengukuhan DPW Gekrafs Jakarta, diharapkan ada payung koordinasi agar potensi ini bisa dibaca sebagai satu kesatuan industri. Jakarta bisa menjadi laboratorium untuk menguji model bisnis kreatif baru: mulai dari event hybrid (offline-online), integrasi kreator lokal dengan brand nasional, sampai pemanfaatan ruang kota sebagai panggung karya, seperti festival seni di taman kota, car free day tematik, atau aktivasi kreatif di halte dan stasiun.

Rano juga menyinggung pentingnya keberpihakan kebijakan, misalnya dalam bentuk kemudahan perizinan event, dukungan promosi, dan integrasi program ekonomi kreatif dengan agenda pariwisata kota. Harapannya, wisatawan domestik yang datang ke Jakarta tidak hanya mampir ke mall, tetapi juga merasakan langsung atmosfer kreatif khas ibu kota.

Harapan Pelaku Ekraf: Dari Studio Kecil ke Panggung Besar

Bagi pelaku ekonomi kreatif, pengukuhan DPW Gekrafs Jakarta ini bisa dibaca sebagai peluang baru. Dengan struktur organisasi yang lebih rapi dan jaringan yang lebih luas, akses ke informasi program bantuan, hibah, inkubasi, sampai peluang tampil di event besar diharapkan bisa lebih terbuka dan transparan.

Banyak pelaku kreatif di Jakarta yang memulai dari ruang sempit: kamar kos yang jadi studio desain, garasi yang jadi ruang latihan band, sampai lapak kaki lima yang jadi eksperimen kuliner. DPW Gekrafs Jakarta didorong untuk hadir ke ruang-ruang ini, bukan sekadar mengundang ke acara formal di pusat kota.

“Jangan sampai Gekrafs hanya berkegiatan di hotel dan gedung konferensi. Ruang kreatif Jakarta itu ya di gang, di teras rumah, di co-working kecil dekat stasiun, di rooftop ruko. Kita harus hadir di sana,” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam pengukuhan.

Harapan lainnya adalah adanya pendataan dan kurasi yang sehat, sehingga setiap subsektor tidak merasa tertinggal. Misalnya, subsektor film pendek dan web series lokal yang berkembang pesat di platform digital, pelaku gim lokal, hingga kreator NFT dan seni digital yang mulai tumbuh di Jakarta.

Baca Juga: Agenda Event Seni dan Musik Akhir Pekan di Jakarta

Informasi Terkait: Apa yang Bisa Dilakukan Anak Jakarta?

Untuk warga Jakarta yang ingin terlibat dalam penguatan ekonomi kreatif pascapengukuhan DPW Gekrafs Jakarta, ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:

  • Mengikuti kanal informasi resmi Gekrafs Jakarta untuk update program, workshop, dan open call kolaborasi.
  • Membangun komunitas kecil di lingkungan tempat tinggal atau kampus, lalu menghubungkannya dengan jaringan Gekrafs.
  • Mendaftarkan usaha kreatif (dari studio kecil sampai UMKM) secara legal agar mudah mengakses program pendampingan dan pembiayaan.
  • Aktif memanfaatkan ruang kota, dari taman, ruang publik, sampai event car free day sebagai panggung promosi karya yang tertib dan kreatif.

Bagi pemerintah kota dan pemangku kebijakan lain, pengukuhan DPW Gekrafs Jakarta bisa jadi momentum untuk menyelaraskan program: mulai dari penataan ruang kota yang ramah event kreatif, penyediaan ruang publik yang aman untuk aktivitas seni, sampai peningkatan infrastruktur digital di berbagai titik kota.

Penutupan acara pengukuhan berlangsung hangat dengan nuansa urban khas Jakarta; lampu-lampu kota, lalu lintas yang padat, dan energi anak muda yang masih mengobrol soal rencana kolaborasi baru meski acara sudah usai. Warga Jakarta yang bergerak di dunia kreatif patut memantau langkah lanjutan DPW Gekrafs Jakarta ini, karena di sinilah arah baru ekonomi kreatif ibu kota sedang disusun.

Buat Sobat jkt.info yang merasa bagian dari ekosistem kreatif, jangan ragu untuk ambil peran. Dari studio kecil di pojok rumah sampai panggung festival besar, penguatan ekonomi kreatif Jakarta berangkat dari karya kalian sehari-hari.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan